Selasa, 20 September 2011

the other HP

Tes..tes..semoga bs terbaca. Klo tbaca,artiny emg ga perlu lebih repot. Walau kadang repot itu sedikit perlu..

Rabu, 27 Juli 2011

Emansipation

Beberapa waktu lalu, saya tidak sengaja melihat tayangan sebuah infotainment di televisi. Tayangan itu sedang menampilkan wawancara dengan salah satu diva terkenal Indonesia yang berbahagia dengan perkawinan keduanya. Tentunya tayangan ini pun ditonton oleh berjuta masyarakat yang pada saat sekarang ini selalu tergila-gila dengan info tentang orang lain. Misalnya peristiwa seorang pesohor dari kalangan kepolisian hanya dengan cara simple yang semua orang biasa lainnya bisa lakukan. Hanya dengan moment yang tepat, bisa memutar balikan jalan hidup seseorang. Saya saja sampai kesulitan melepaskan berita tentangnya. Karena setiap berpindah channel, setiap kali itu pula, info tentang anggota kepolisian tersebut muncul. Kembali pada cerita tentang diva tadi. Salah satu segmen curhatnya, ketika ditanya oleh pewawancara, “Lalu bagaimana dengan karir mbak X, selanjutnya? Apakah akan tetap melanjutkan karir menyanyi atau tidak?” jawaban sang diva, “Saya bersyukur, suami saya masih mengijinkan saya untuk tetap menyanyi. Mungkin saya hanya tidak mengambil job di akhir pekan. Sehingga waktu saya bersama keluarga lebih banyak.” Menurut saya, cukup gawat juga pernyataan sikap seperti ini. Kembali mengambil resiko menjadi public figure yang menjadi tontonan jutaan orang. Kadang sikap pun cukup bisa menjadi tiruan bagi penggemarnya. Alangkah baiknya jika sikap yang ditampilkan pada khalayak merupakan sikap yang baik-baik secara normative.
Suami memang merupakan kepala keluarga yang harus menjadi leader yang baik. Namun bukan mutlak, mampu menjadi acuan arah perjalanan keluarga. Ada peran istri yang menjadi co-pilot. Ketika seorang istri memutuskan untuk bekerja, tidak berarti harus menunggu respon suami. Selama bekerja itu merupakan sikap ekspresif istri. Ketika abad sekarang, dimana wanita semakin bisa eksis dengan karya-karyanya, tentunya para suami akan lebih menghargai istri yang mandiri. Kemampuan untuk bekerja, merupakan sikap kuasa istri terhadap pendapatnya sendiri. Jika kebutuhan sekarang semakin tinggi, wanita tidak seharusnya hanya mampu mengerjakan pekerjaan domestik saja. Tidak selamanya, suami mampu menyediakan segala sesuatunya menjadi sempurna. Bekerja memang merupakan ekspresi. Tidak mutlak dilakukan jika suami mampu menanggung semua hal untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Zaman nabi saja, sudah dicontohkan, kemandirian wanita merupakan sarana yang baik untuk mendukung eksistensi keluarga. Dari mulai Khadijah sampai Aisyah, merupakan wanita-wanita cerdas yang tidak hanya saja mendampingi suami, tetapi tetap melakukan pekerjaan yang mampu menjadikan mereka wanita mandiri. Jadi bekerja merupakan hak wanita. Tak perlu menunggu ijin suami. Kalau suami yang mempunyai wawasan luas dan bijaksana, tentunya akan bangga ketika istrinya mempunyai kemandirian. Karena pada dasarnya suamilah yang diuntungkan, setidaknya bebannya menafkahi keluarga, agak lebih ringan. Jika pengertian bekerja adalah pegawai, dan suami menjadi lebih repot karena posisi istri lebih tinggi darinya. Sebaiknya usaha lebih keras lagi menundukkan ego yang tidak mau kalah dengan istrinya. Jika istri bekerja di rumah, alangkah baiknya jika suami mengerti tentang betapa repotnya mengasuh anak dan bekerja sekaligus. Banyak hal yang bisa dikomunikasikan secara sehat. Istri yang hanya sibuk mengurus kegiatan domestik rumah tangga, kecenderungannya tidak mampu mengimbangi pemikiran suami yang bekerja di luar rumah. Informasi diterima suami, akan mempengaruhi pola pikirnya. Jika istri yang aktif, tentunya kecerdasannya pun akan terus terasah sehingga mampu mengimbangi pemikiran suami. Karena istri mampu memahami suami dan sebaliknya.

Everybody Can Cook


Bagi saya, mungkin ini merupakan hal yang luar biasa. Sepanjang umur saya, hingga beberapa waktu lalu. Saya tidak pernah memasak makanan dengan berdasar pada racikan bumbu saya sendiri. Biasanya saya cuma berperan sebagai asisten koki. Misalnya memotong sayur, mengupas bumbu atau mengaduk adonan. Baru setelah saya mempunyai tempat tinggal sendiri, saya baru mempunyai keberanian untuk membuat masakan saya sendiri. Pada awalnya saya berdasar pada rasa yang selama ini saya makan. Thank’s to God, bahwa selama ini, lidah saya terbiasa dengan masakan ibu dan kakak perempuan saya yang memang sangat jago memasak. Dulu, sewaktu saya masih single, memasak merupakan momok tersendiri. Saya selalu ketakutan untuk hidup sendiri, karena kekurangan saya, tidak bisa menyediakan makanan. Sedangkan untuk membeli, artinya saya masih ketergantungan pada penjual makanan. Sebagai anak kost yang benar-benar jauh dari orang tua, kadang ada rasa kekhawatiran ketika penjual makanan tutup, maka saya akan mengalami kesulitan. Kelak pun, saya pasti harus berhadapan dengan bumbu dan berbagai macam hal nya tersebut. Maka mulailah saya memberanikan diri untuk memasak. Tentunya dengan bekal telephon kakak perempuan saya, karena jika saya telephon ibu, pasti nya saya kena omelan nya. Waduh, mending mencari aman saja. Kakak perempuan saya, sungguh dengan sabar mengajari adik perempuan nya yang tidak begitu cerdas ini untuk memperkirakan bumbu-bumbu. Resep sederhana mulai saya coba, yang penting, rasanya sudah terasa masuk akal. Pasti saya anggap masakan itu sukses. Sungguh tidak terkira rasa bersyukur saya, bahwa selama ini, saya mempunyai ibu dan kakak perempuan yang memanjakan saya dengan masakan yang enak, sehingga ketika sekarang, saya hanya mengira rasa masakan yang pernah saya makan dulu. Hasilnya tidak mengecewakan. Sirloin steak saya, cukup membuat orang lain yang merasakan mengatakan cukup enak. (entah mereka bilang dibawah tekanan atau memang karena perasaan tidak enak pada saya) hi..hi.. yang jelas, sejak saat itu, saya menemukan keasyikan baru, untuk lebih banyak mencoba masakan yang biasanya saya kudu merayu ibu atau kakak saya untuk membuatkan makanan yang saya ingin. Sekarang, setidaknya saya mampu membuatnya sendiri, walaupun harus melalui perjuangan panjang. Yang penting, saya belajar mandiri seutuhnya. Jika ingin mencoba masakan yang baru, saya bisa mendapatkan resep nya di internet atau majalah. Sekarang, saya menyadari betapa memasak mempunyai rasa keasyikan tersendiri yang berbeda dengan kesenangan saya yang lain. Acara favorit saya di televisi, selain film kartun, sekarang acara master chef, chef ala dan masih banyak acara masak-memasak lainnya. Apalagi pelan-pelan saya mulai mengumpulkan peralatan masak. Walau hanya sederhana, namun cukup dapat memuaskan rasa yang biasanya dengan mudah saya terima, karena di tempat kelahiran saya, semuanya serba tersedia. Sedangkan saya disini, ketika semua makanan tidak semua dapat saya nikmati secara mudah. Maka saya harus membuatnya. Not bad lah.. walau yang bilang enak, cuma saya sendiri.

Minggu, 03 Juli 2011

Ini kali ptama saya entri blog dr hp saya. Semoga bisa tliat,krn emg br mcoba

Selasa, 24 Mei 2011

Original Taste



Hidup di daerah perantauan yang notabene hampir bertolak belakang dengan kebudayaan asal, kadang sering menimbulkan kerinduan tentang hal-hal yang berbau kampung halaman. Bahkan termasuk saya yang terbiasa hidup di berbagai tempat. Seiring dengan berlalunya waktu, ketika saya jauh dari daerah asal saya, sering pula merindukan makanan asal yang jarang dijumpai di tempat tinggal saya sekarang. Dari mulai, gethuk tiga warna, keripik belut, gudeg ceker dll. Kebetulan saya berasal dari suku jawa. Hidup merantau kadang membuat romantisme masa lalu menjadi sebuah perenungan tersendiri. Salah satu yang tiba-tiba muncul di kota tempat tinggal saya sekarang ini, adalah wedang ronde. Sesuatu yang terakhir kali saya nikmati ketika sedang berada di kota kelahiran saya. Nun jauh di pulau Jawa. Wedang ronde merupakan minuman yang menggunakan bahan air jahe. Sedangkan ronde merupakan campuran ketan yang diberi gula. Toping nya biasanya menggunakan buah kolang-kaling, kacang sangrai, bisa juga ditambah dengan agar-agar. Ketika berada di kota kelahiran saya, justru saya tidak menyukai minuman ini, walaupun minuman ini menjadi favorit ibu dan ayah saya. Namun ketika berada di perantauan seperti sekarang ini, makanan inilah yang menjadi sekadar pengobat rindu pada ibu dan bapak saya. Jadi ketika saya melihat penjual wedang ronde, terasa semangat untuk menikmatinya. Hal yang paling unik, adalah sesama pembeli, merupakan semua orang yang pernah merasa tinggal di Jawa. Ketika mulai mengenalkan pada anak-anak mereka. Terasa saya menyaksikan turunan budaya. "Pasti kamu nggak tau, minuman ini" kata seorang ibu pada anaknya. Anak itu hanya senyum-senyum saja. "Ini terlalu pedas" jawab sang anak, sambil mengibaskan tangannya di depan mulutnya. Yaaa, dialog yang membuat saya miris. Bilamana kebudayaan tidak akan terjaga baik, bila tidak ada penjaga kebudayaan yang tidak bisa menurunkan budaya secara baik. Apalagi ketika budaya global semakin bisa menggerus kebudayaan nenek moyang kita sendiri. Betapa sangat mengenaskan. Bagi saya dan suami yang kebetulan juga mengetahui beberapa kultur Jawa, memang merasa sedikit kesulitan jika harus berhadapan dengan budaya luar. Untuk menjaga rasa kedaerahan, walaupun hanya berdasar pada minuman saja. Sudah cukup mampu membuat romantisme masa lalu sedikit bisa terasa kembali.

Kamis, 12 Mei 2011

Flying with the Wings



Terakhir saya melihat burung-burung yang berkelompok terbang di langit senja. Mungkin sekitar 100 ekor lebih yang saya liat di kota kelahiran saya, sekitar akhir tahun 80-an, di Jawa. Saya mengingatnya dengan jelas, ketika saya masih umur 8 tahun tersebut ditunjukkan oleh ayah saya. Romantisme masa lalu yang setelah berlalunya waktu, kemudian saya melupakannya. Polusi yang semakin meningkat, ataupun perburuan burung-burung, mungkin membuat burung-burung itu tak lagi bisa terbang secara berkelompok pada sore hari. Selain itu, semakin saya sibuk dengan kegiatan sekolah, hingga bekerja sekarang ini. Saya sepertinya lupa dengan keindahan sore hari. Apalagi sekarang, rutinitas yang membosankan. Pulang bekerja saja, justru saat hari selesai gelap. Melihat matahari pagi dan petang saja, sudah lupa bagaimana bentuknya. Jiwa saya kembali terkenang pada peristiwa masa kecil indah itu, *thank’s to God. Give me fabulous childhood. Hingga suatu saat, saya melihat burung-burung itu kembali, ditempat saya bekerja sekarang. Nun jauh di ujung timur Indonesia. Jauh dari tempat kelahiran saya di Jawa. Ketika manusia, hutan dan laut masih saling bersahabat. Saya kembali menemukan burung yang terbang berkelompok tersebut. Betapa hal yang cukup mengharukan bagi saya. Mungkin bagi masyarakat disini, hal tersebut merupakan hal yang biasa saja. Bahkan kecenderungannya tidak begitu peduli. Karena memang hal tersebut bukan yang menarik untuk diliat. Sungguh mengesankan..

*courtesy by Yanthi Hotriana, burung di pantai kumbe, Merauke, Papua

The other side of story

“Sahabat mungkin akan pergi, tetapi persahabatan tidak akan pernah hilang”
Begitulah dulu saya pernah mendengar sesuatu kalimat yang disampaikan secara tidak sengaja oleh teman saya. Ketika itu akhir di masa kuliah, sekitar semester setelah menjelang skripsi usai. Saat berkumpul di perpustakaan pusat untuk menyerahkan bendelan skripsi sebagai syarat pengurusan gelar kesarjanaan di gedung rektorat. Berkumpul hanya dengan sahabat dekat yang sebentar akan berpisah, kembali ke tempat atau kota asal masing-masing. Mencoba merajut masa depan. Bagi yang memiliki IP lumayan tinggi, tentunya ada sedikit kebanggaan, mampu mencari pekerjaan atau bahkan mampu menciptakan pekerjaan. Bagi yang selama ini sudah bekerja, tinggal melanjutkan sedikit langkah untuk mendapatkan kehidupan yang semestinya. Kami lulus sekitar periode tahun 2003-2004. Sehingga detik ini, hanya tersisa segelintir orang yang bisa berkomunikasi. Baik melalui jejaring social, sms ataupun media lainnya. Sungguh mengharukan ketika sekarang saling bercerita tentang kondisi masing-masing. Keadaan yang sudah berkeluarga. Saling bercerita tentang suami, anak, ataupun keadaan diri sendiri yang penat dengan pekerjaan ataupun hal yang lain. Bercerita tentang mantan pacar dulu yang sekarangpun mungkin sudah berkeluarga dengan orang lain. Kadang ketika di facebook muncul tagging foto-foto jadul, sangat terasa kerinduan yang menyeruak muncul, “apakabar dia sekarang?” “bagaimana kondisinya sekarang?” Mendoakan hal-hal yang baik, menjadi obat yang menyenangkan untuk sekedar mengurangi rasa rindu tersebut. Teman-teman yang dahulu menjadi rekan seperjuangan, kini sibuk memperjuangkan keadaan masing-masing. Apalagi dulu ketika saya belum menikah, dan berteman dengan teman-teman yang telah menikah. Kadang merasa aneh, belum menemukan pasangan yang tepat dan mereka selalu bertanya, “kapan kamu menikah?”. Ironi yang tidak akan pernah selesai ketika sekarangpun, ketika selesai menikah, saya kembali ditanya, “kapan punya anak?” pertanyaan yang tidak akan pernah bisa selesai terjawab. Tapi sungguh, kebersamaan itu tidak akan pernah bisa digantikan. Rasa indah yang selalu akan ada dalam setiap perjalanan hidup masing-masing dari kita yang dulu pernah bersama. Ketika sekarang, kita sudah semakin tua dan sibuk dengan urusan pribadi, akan selalu ada hal yang membuat saya selalu merindukan setiap detik kebersamaan. Perubahan yang terjadi, memang berlaku natural, seiring dengan bergantinya waktu. Teman sejati tidak akan pernah bisa melupakan hal yang indah. Bila sekarangpun telah berubah, maka sebenarnya hanya pergantian masa disaat cerita lain sedang berlangsung. Maka akan ada cerita lain disisi sebaliknya. Sahabat yang tidak sengaja mengingat ulang tahun sahabatnya, mungkin hanya hal sepele. Namun bagi sahabatnya tersebut merupakan hal yang sangat penting. Merindu teman-teman lama tidak akan pernah usang untuk diceritakan. Kenangan indah yang akan selalu terpatri dalam relung hati. Saat sekarang, kesibukan memang merentangkan jarak bagiku dan bagimu, namun bertemu dalam mimpi kadang cukup membuat cerita itu akan tetap selalu ada. Andaipun dirimu yang nun jauh disana, tetaplah dekat dalam hatiku. Bila dirimu telah tenang disana, tetapkan hidup dalam imaji kenangan kebersamaan yang tidak akan pudar.