Sabtu, 15 Juni 2013

Trying Something

Kali ini saya mencoba untuk lebih serius. Dalam artian, saya mulai dengan membuat catatan barang masuk dan keluar. Setidaknya saya masih bisa mengontrol terhadap pengeluaran dana yang seharusnya menjadi modal dan keuntungan bisnis yang sedang saya rintis ini. Berawal dari melihat status teman SMP saya di wall FB nya. Tentang sebuah bisnis MLM yang memang selama ini saya juga membeli dari teman saya di kantor. Beberapa product memang cocok dengan saya. Namun yang saya tertarik, karena saya sedang mencoba menantang diri saya sendiri untuk lebih konsisten terhadap bisnis saya ini. Dulu ketika saya jual pulsa, mungkin tidak terasa keuntungannya karena barang yang saya jual merupakan barang yang cepat sekali habisnya, dan keuntungannya yang diterima sedikit sekali. Walaupun jika ditekuni secara mendalam, pasti akan menguntungkan. Namun, bagi saya yang senang sekali menggunakan uang dagang untuk kegiatan yang lain, maka bisnis pulsa bukan hal yang cocok bagi saya. Melihat dari feng shui, memang saya tidak cocok dengan usaha makanan. Bukan percaya pada hal tersebut, melainkan setelah saya pikir, saya memang tidak berbakat jika menggeluti dunia kuliner tersebut. Selain tipikal saya yang moody, kadang saya terbentur dengan kesempurnaan saya untuk menjual semua product. Padahal tentunya, dalam ilmu dagang, bukankah kadang ada barang yang dapat dijual dan kadang terdapat barang yang tidak laku. Lha kalau saya jualan makanan, yang ada kalau ada makanan sisa dan basi, pasti saya akan merasa sangat bersalah sekali. Dan seperti kondisi tersebut akan tidak bagus bagi perkembangan jiwa saya, mudah sekali stress dengan keadaan yang menurut saya tidak seperti yang saya bayangkan. Dengan berbekal rasa semangat dari FB teman SMP saya tersebut, saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi member pada MLM tersebut. Mungkin karena memang kesempatan datang, berdasarkan kebutuhan saya sendiri terhadap product tersebut, maka akhirnya saya bertekad untuk serius mendalami penjualan tersebut. Belum lagi ketika mendengar kabar, bahwa ibu mertua saya berhasil mendapatkan kios baru. Saya sedang menjajagi kemungkinan bisa menitipkan sedikit product saya untuk dijual disitu… hehehe.. Selain ketika teman kantor yang mengundurkan diri dari bisnis MLM, sehingga pelanggannya dapat dialihkan kepada saya. Belum lagi, dari upline saya, saya masih dianggap meneruskan orang lamanya yang tidak meneruskan bisnis ini juga. Begitu banyak kemudahan yang saya anggap mungkin ini merupakan mukzijat Tuhan, agar saya bisa dengan semangat memulai bisnis MLM ini. Karena ini merupakan kali pertama saya menekuni secara serius, jadinya saya lebih berhati-hati lagi untuk membelanjakan uang dari hasil penjualan barang tersebut. Tapi sesungguhnya pengeluaran saya kali ini bukan untuk diri saya sendiri, melainkan memang diperuntukkan bagi kebutuhan rumah tangga. Saya memang kudu membayangkan dapat mendapat bonus yang besar, sehingga kemauan saya untuk displin menjadi lebih semangat lagi. Cuma kadang yaa.. itu kalau kambuh moody nya, emang harus selalu memompa semangat bagi diri sendiri deh.. Belajar displin dan konsisten, sebenarnya hanya konsep itu saja yang belum pernah saya terapkan dengan sungguh-sungguh. Alhasil, malah jadinya saya mulai belajar marketing. Suatu hal yang dulu saya tidak pernah saya bayangkan untuk bisa memulainya. Sekarang ini dengan kondisi kebutuhan yang memang saya semakin rawan harus meningkatkan income untuk mempersiapkan biaya hidup anak saya. Mengandalkan suami saja, sepertinya bukan tipe saya, sehingga memang saya harus berpikir lebih untuk hal tersebut. Sehingga saya harus belajar untuk bisa memasarkan.

Attitude and Cooperation

Menurut saya, core departemen tempat saya bekerja ini, sebenarnya merupakan tempat yang paling kudu bisa mengedepankan sistem komunikasi dan koordinasi yang paling cepat, akurat dan efektif. Kebetulan saya ini berada di sebuah departemen yang memang seharusnya orang-orang yang di dalamnya bener-bener paham tentang makna saling terbuka tentang peran dan tanggung jawab personel dalam sebuat team. Tentunya dalam setiap pekerjaan, yang namanya team merupakan kesatuan dari beberapa orang yang merujuk pada suatu tujuan. Kalau di perusahaan tempat saya bekerja ini, divisi pembelian tentunya berkaitan dengan kepuasan user alias customer yang menjadi pelanggan kita. Kalau di perusahaan yang masih dalam bentuk project begini, tentunya hanya berkaitan dengan sesama departemen saja, sebutlah misalnya departemen maintenance and heavy equipment, mengajukan permohonan permintaan barang pembelian mur dan baut. Proses pembeliannya pun bisa memerlukan waktu, misalnya masih kudu mengerti benar spesifikasi barang. Nah, disinilah gunanya komunikasi. Koordinasi disini penting karena berkaitan dengan kebutuhan user yang emang menunjang kegiatan produksi di pabrik sana. Selain itu, komunikasi dengan sesama rekan kerja. Menurut saya, yang namanya sebuah team, yang namanya ngobrol antara sesama rekan satu team itu merupakan hal yang paling penting. Saya sebenarnya sangat paham sekali bahwa setiap orang tentunya mempunyai karakter, visi dan sikap individual. Saya menyadari benar, ketika teman kerja saya mempunyai misalnya, sifat egois, tidak bisa diperintah atau bahkan tidak bisa bekerja dalam sebuah team. Artinya memang dia lebih suka bekerja sendiri. Tapi tetep dunk dalam batas kewajaran. Artinya kita ini merupakan team yang .. helloo.. ada orang lain juga di situ juga. Kalau Cuma bilang selamat pagi dan pamitan pulang ajah susah banget untuk ngomong, lha buat apa masuk dalam sebuah divisi yang notabene kudu ngomong tiap hari. Emang bener sih, hubungan kita cuma dengan supplier dan user. Tapi mbok ya nyadar, di ruangan itu ada makhluk-makhluk Tuhan yang bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Bisa hanya menyapa ringan, say hello, atau berkomentar ringan. Kecuali kalau emang dirinya sakit permanen, trus kemudian tidak menyapa teman-teman di sekelilingnya yang merupakan satu keluarga. Ya ampuun.. mending dirinya resign ajah, daripada membuat kekompakan satu team menjadi bubar. Pernah mikir nggak sih, siapa yang mengerjakan tugasnya klo dirinya cuti atau sakit atau sekedar lagi nggak mood kerja. Pernah mikir nggak, koordinasi itu tidak hanya dengan atasan saja melainkan juga dengan rekan-rekan sekitarnya. Yang ada ketika hanya diam dan pasif, tanpa ada keterangan apapun, mending dirinya cuti panjang atau resign sekalian. Pernah mikir nggak sih, kalau sikap itu merupakan hal yang paling banyak berkaitan dengan tim kerja, hubungan antar karyawan dan saling menghargai sesamanya. Bahkan perusahaan biasanya akan lebih mempertahankan karyawan yang menghargai orang laen, optimis dan mampu bekerja sama dibanding dengan yang bekerja baik namun punya perilaku aneh. Suer, saya sungguh tidak bisa mengerti dengan jalan pikirannya ketika istilahnya kalau orang lokal bilang kapal kayu, artinya orang yang tidak mau bertegur dengan rekannya. Masak kerja modelnya kudu disuruh melulu oleh atasan, tidak ada inisiatif untuk memulai sesuatu. Bekerja dimanapun pasti tidak akan lepas dari suatu team kerja. Bahkan suatu perusahaan kadang sangat berpengaruh antara kerjasama dan semangat dalam suatu team. Sekalipun hanya satu departemen saja. Karyawan yang bisa bekerja sama dengan siapapun, menjadi poin penting yang diperhitungkan. Sebenarnya dirinya itu mikir nggak sih, bahwa tidak ada keberhasilan per orang, melainkan yang ada keberhasilan team. Bahkan dia tidak menyadari ketika banyak pekerjaannya yang diambil alih oleh orang lain, terlihat bahwa sebenarnya dirinya tidak capable di bidang kerja nya tersebut. Pernah nyadar nggak sih, bahwa proses kinerja nya selama ini, diamati terus oleh pimpinan. Walaupun tetap berorientasi pada hasil yang diperoleh, namun cara yang dilakukan untuk meraih hasil yang maksimal pun, sepertinya juga menjadi pertimbangan penilaian atasan. Mikir nggak sih, ketika sekarang berada di jaman dimana banyak orang yang berebut kerja dan kadang melakukan apapun untuk bisa mendapatkan pekerjaan tersebut, bisa ajah kan sewaktu-waktu posisinya bakal digeser. Tidak melulu menjadi orang yang harus cerewet atau miss gaul kalau istilah ponakan saya. Melainkan hanya memaafkan dengan cepat, kemampuan kecepatan untuk menyelesaikan masalah, salah persepsi, dendam dikerjai rekan, padahal emang tidak bermaksut mengerjai, hanya sebatas salah paham saja, dan konflik pun sehingga suasana kerja menjadi nyaman kembali. Mikir nggak sih, kalau hidupnya itu tidak sendirian di situ. Mikir nggak sih, ketidaknyaman suatu team akan berpengaruh pada kelangsungan bisnis perusahaan. Tau juga sih, kalau rasa dendam hanya akan membuat kita lelah dan tidak mampu berpikir positif. Jadi jangan marah kalau saya mendoakan bahwa rekan yang nyebelin, suatu ketika akan kena batunya sendiri.. hehehe..

Minggu, 19 Mei 2013

About The Ex

Berikut tentang beberapa kalimat yang waktu lalu saya rangkum dari Kulwit Alberthiene Endah, tanggal 09 Maret 2013. Salah seorang penulis favorit saya, yang saya follow twitter-nya diantara penulis favorit saya lainnya. Begini Alberthiene Endah menulis : 1. Banyak banget ya, tips menjelang nikah. Jarang ada tips menjelang cerai 2. Menurutku orang yang sukses dalam percintaan bukan yang awet sama seseorang. Tapi orang yang tidak pernah membenci dan dibenci mantan-mantannya. 3. Mantan itu “tempat belajar”. Belajar tau jeleknya kita. Belajar mengerti jeleknya pacar. 4. Mantan juga tempat “berlari”. Bayangannya Cuma kita yang tahu enaknya untuk diapain. 5. Fisiknya mantan. Bayangannya nggak. Itu yang terjadi pada yang susah move on. 6. Mantan juga tempat mengukir. Tentang seberapa sanggup menyuruh pikiran kita untuk lupa. 7. Mantan itu nggak perlu dilupain. Karena orang-orang yang indah memang ditakdirkan untuk teringat. 8. Sebagaimana pikiran kita mampu menyimpan banyak hal, begitu pula ruang hati terhadap mantan. Tak perlu diusir, karena memang mereka pernah ada di sana. 9. Bagaimanapun juga, meskipun sekarang sejauh matahari, dulu dia pernah sedekat nadi. That’s all. Ehhmmm, okay. Jlleebbbb…. Kultwit tersebut sempat menohok telak bagi saya. Karena memang mungkin saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa move on, dari 3 sosok lelaki yang pernah dekat dengan saya. 1 orang adalah mantan, 1 orang adalah selingkuhan abadi dan 1 orang adalah kasih tak sampai saya. Gile bener kan. Padahal mereka semua mungkin sudah tidak peduli lagi dengan saya. Bahkan saya sempat berpikir, jangan-jangan mereka pun sudah lupa dengan saya. Hihihi.. betapa saya ini tampak sangat mengenaskan sekali bukan. Namun tidak bisa saya pungkiri, saya sering bermimpi tentang mereka. Macem-macem ceritanya. Dari mulai jalan ke mall, jalan di padang rumput, ketemu di ruang bandara dll. Uniknya dalam mimpi tersebut, sosok suami saya pun selalu menyertai saya. Setiap kali saya bangun tidur dengan mimpi aneh tersebut, saya selalu merasa geli. Saya bisa mengenang kembali mereka yang pernah sedekat nadi tersebut. Lucu sekali pikir saya. Saya berharap suatu saat, saya bisa melepaskan mereka semua dengan lega. Mungkin butuh waktu untuk lebih sibuk dari sekarang ini untuk bisa tiba-tiba memandang mantan tersebut sebagai bagian hidup. Kadang pikiran saya sering menghadirkan bayangan mereka, untuk sejenak istirahat dari hiruk pikuk suasana hati saya. Namun sungguh, saya terlalu penakut untuk selalu berdekatan kembali secara nyata dengan mereka. Kecuali dengan orang kisah tak sampai saya itu. Masih aman, karena kebetulan dia bisa menjaga kenangan saya pada tempatnya. Dia menikah atau tidak pun, tidak memberitau saya. Hehehe.. jadi makin cinta deh padanya.. saya menganggap dia bijaksana dalam menyikapi saya yang berulang kali menyatakan cinta padanya dulu.. Tapi untuk mantan dan selingkuhan abadi saya, saya belum bisa mendekat kembali. Bahkan hingga account FB dan email nya, saya hapus. Demi menjaga kenangan indah saya tentang mereka pada tempatnya. Kebetulan mereka semua telah menikah pula. Saya terlalu takut untuk cemburu..hehehe.. Mungkin memang begitulah sifat saya yang tidak pernah bisa untuk terlalu dalam merasakan sakit. Menjauh dari bagian yang menurut saya bagian yang harus dikubur dalam. Bagi saya, dengan mengingat hal-hal yang indah, akan memompa semangat saya meraih hal-hal yang lebih baik lagi. Mengafirmasi bahwa saya bisa berkreasi dan optimis menjalani hidup. Makanya untuk mendekati mantan, saya lebih sering berpikir milyaran kali deh. Cukup mengakhirkan kisah cinta yang sedemikian kocak itu indah pada waktunya. Menjadikan bahwa semuanya harus selesai, tuntas disitu saja. Cukup dengan keindahan bayangannya saja yang kadang saya pikir, akan mengabur dengan sendirinya. Entah kapan. Pada masanya, kelak. Karena sampai sekarangpun, saya memang belum sanggup untuk bisa lupa. Merasakan bahwa sungguh, hal yang aneh ketika dulu dengan polosnya saya bisa menyerahkan hati, rasa dan jiwa. Untungnya Tuhan mempertemukan dengan suami saya, yang memang saya rasa pas untuk memahami tentang semuanya pada diri saya ini. Jadi ketika menikah pun, saya tidak merasa kehilangan jati diri dan pemikiran saya. Dan kebetulan sungguh merupakan hal menyenangkan ketika saya masih bisa melakukan hal-hal di "me time" seperti biasanya.

Senin, 25 Februari 2013

Setiap Tempat Punya Cerita [Arifah Erlisdyanah]

Judul : Pantai Nusakambangan, Kabupaten Cilacap
Niatnya memang penelitian dengan 3 dosen dan 2 orang teman baru. Sekitar tahun 2005 yang lalu. Selama waktu satu setengah minggu di tempat penelitian, yang kebetulan kita mengambil tempat di Kabupaten Cilacap, tentunya kurang afdol jikalau tidak berkunjung ke Nusakambangan yang terletak di selatan Kabupaten Cilacap. Akhirnya pada waktu luang, disela tugas melakukan penelitian tersebut kami berencana mengunjungi Nusakambangan. Dari pelabuhan Cilacap, kita menaiki kapal Ferry selama 15 menit. Sebagai tempat yang terkenal sebagai penjara bagi orang-orang yang telah melakukan kejahatan kelas berat. Lembaga pemasyarakatan yang terkenal sebagai tempat high security di Indonesia. Pada waktu itu, kami dipandu untuk berkeliling pulau selama 4 jam. Oleh pemandu dijelaskan tentang macam-macam rumah tahanan yang terdapat di Nusakambangan. Misalnya rutan batu, rutan kembang kuning dan beberapa lagi yang saya lupa namanya. Pada waktu itu, penghuninya masih terdapat Tommy Suharto, Amrozi dan penjahat terkenal lainnya. Nusakambangan yang memang disetting sebagai tempat lembaga pemasyarakatan, memang sekilas tampak menyeramkan. Suasana yang lenggang, hutan dan tanaman yang rimbun masih mendominasi sekitar daerah tersebut. Belum lagi, rumah penduduk yang tampak jarang, sering terasa lebih sepi. Mungkin dimaksudkan agar para tahanan lebih merasa terasing dengan dunia luar. Pemandu mengajak kami ke Gua Ratu. Goa ini panjangnya sekitar 4,5 km dan berujung di pantai selatan, untuk menelusuri goa ini ga bisa sembarangan karena pada kedalaman lebih dari 100 m karena akan membutuhkan tabung oksigen, katanya baru sedikit orang yang mampu menelusuri goa ini sampai ke ujung. Banyak penjual yang menjajakan kerajinan yang terbuat dari batu akik. Ternyata penjual tersebut, beberapa diantaranya merupakan mantan napi Nusakambangan. Mungkin ketika bebas, mereka tidak mempunyai tempat untuk kembali sehingga mereka memutuskan untuk tetap berada di Nusakambangan dan mencari nafkah dengan berjualan. Setelah beberapa saat berada di Gua Ratu. Kemudian pemandu mengajak kami ke pantai Nusakambangan. Di tempat inilah, saya merasakan keindahan yang luar biasa. Deburan ombak yang begitu kencang, dikombinasikan dengan batu karang yang kukuh berdiri, khas karakter Pantai Selatan Jawa, merupakan hal yang indah yang dipaparkan oleh Nusakambangan. Tampak dilatarbelakang kami, dibuat sebuah monumen yang berbentuk pisau komando Kopassus. Disampaikan oleh pemandu, bahwa monumen pisau komando tersebut dibuat karena di area tersebut memang sering digunakan oleh pasukan Kopassus untuk berlatih. Ingin rasanya bermain air disitu, namun karena dilarang oleh ibu dosen akhirnya yang kami lakukan hanyanya berjalan sejenak menyusuri pantai dan berfoto disela karang. Bentuk batu karang yang indah, pantai pasir putih dan riak air kecil yang menghempas pantai, merupakan hal indah yang saya temui. Berasa seperti berada pada gambar National Geographic. Tentunya bagi saya baru saja bergabung, memanfaatkan moment tersebut untuk mengakrabkan diri dengan 2 rekan baru saya tadi. Hingga sekarang ini, pertemanan saya dengan salah satu rekan penelitian saya masih terjalin baik. Sungguh menyenangkan sekali. Setelah beberapa saat beristirahat, kita kembali ke Pelabuhan Nusakambangan. Kembali menaiki kapal ferry untuk berlayar menuju Pelabuhan Cilacap. Meninggalkan pantai Nusakambangan yang akan selalu saya kenang sebagai tempat indah.
# Cerita ini diikutsertakan pada Setiap Tempat Punya Cerita

Sabtu, 09 Februari 2013

COMMITMENT

Emang yang namanya disiplin itu, susahnya minta ampun. Bertambahnya tanggung jawab dan rendahnya motivasi, kadang membuat saya harus memaksa diri saya sendiri agar tetap bisa melaksanakan kegiatan tersebut. Yaitu merawat anak. Sesuatu yang dulu tidak pernah saya bayangkan, akhirnya sekarang ini saya mengalaminya sendiri. Penuh dengan hiruk pikuk yang seringkali membuat saya stress. Mungkin terlalu lama single sehingga jiwa saya yang masih seenaknya ini belum bisa sepenuhnya berganti peran sebagaimana mestinya. Masih belum bisa merasakan tanggung jawab dan tetap mengagungkan egoisme. Parah sekali. Saya mencintai anak saya. Cuma sekarang ini, saya masih terlalu mencintai diri saya sendiri. Saya berusaha untuk mengubah mind set tersebut dalam benak saya. Memang butuh waktu. Menghancurkan kemalasan pada diri saya sendiri, itu menjadi pe-er terbesar saya saat ini. Setelah melalui berbagai tantangan, akhirnya saya merasa bahwa cara menghilangkan malas dan mengantuk adalah dengan tetap bergerak. Cara tersebut cukup manjur. Efek sampingnya, badan saya mudah lelah. Karena sebenarnya saya memang belum boleh melakukan aktifitas yang berlebihan. Namun sepertinya cara yang mampu membuat saya tetap terjaga untuk bisa merawat anak. Karena pada saatnya nanti, saya harus mampu melakukan semuanya sendiri. Mengurus rumah, bayi dan suami. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya untuk saya alami sekarang. Cukup shock jg, jet lag atau apapun namanya. Membawa banyak perubahan kejiwaan. Namun sepertinya, memang harus dijalani. Artinya segala sesuatu akan ada awalnya. Seperti waktu saya lulus kuliah dulu. Pertama membuat surat lamaran kerja, tes kerja dan seterusnya. Kerja tidak enak untuk pertama kali. Sungguh merasa bukan bidang saya. Akhirnya, melamar pekerjaan yang sebenarnya sampai sekarang masih saya sesali untuk tidak menindaklanjutinya. Padahal mungkin sesungguhnya, itulah passion saya yang sesungguhnya. Karena saya senang sekali dengan kesempurnaan. Tapi sudahlah. Untuk apa menyesali masa lalu, bukankah itu hanya sebagai acuan untuk masa depan. Yang jelas sekarang adalah bagaimana berkomitmen secara sungguh-sungguh pada kehidupan. Ketika orang bilang life begin at 30, atau 40, sepertinya yaa.. bagi saya, life begin at having responsibility. Apapun itu bentuknya. Entah itu pekerjaan kantor, pekerjaan rumah tangga ataupun seperti yang saya alami sekarang, mempunyai anak. Pokoknya memang hal-hal yang membutuhkan perhatian dan keseriusan tingkat tinggi. Saya mungkin memang berusaha untuk selalu serius terhadap apapun yang saya lakukan. Semoga ajah bisa yaa..

Sabtu, 19 Januari 2013

The Project

Saya sedang mengetes diri saya sendiri untuk mengerjakan suatu project. Tenggat waktu project tersebut sekitar Mei 2013. Dengan kesibukan saya mengurus bayi, sepertinya saya kudu ekstra kerja keras lagi. Karena memang tidak ada yang membantu untuk merawatnya. Ibu saya rencana akan kembali pulang ke Jogja, awal Februari ini. Sehingga otomatis, saya kudu bisa akrobat sendiri untuk menyelenggarakan kegiatan rumah tangga. Sebenarnya saya sedang membayangkan, bisa tidak ya, antara mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menyelesaikan project yang menjadi target saya tersebut. Karena awal pemberitahuan project tersebut memang awal tahun. Sedangkan saya tidak punya stok untuk melengkapi project tersebut, sehingga sekarang ini saya tengah mengerjakan hal tersebut. Kemudian penyakit kronis saya adalah paling malas menyelesaikan sesuatu yang sudah sudah saya mulai. Kadang ketika saya review, ya cuma terhenti sampai di tengah jalan saja. Tidak kemana-mana. Hal kedua yang menjadi masalah sekarang, hanyalah energi untuk mengerjakan itu semua. Artinya, darimana saya mendapatkan energi untuk menyelesaikan semuanya itu. Musuh saya, hanyalah rasa kantuk. Mungkin saya tidak lapar, masih bisa menahan untuk tidak makan, saya masih sanggup. Tapi bagaimana mensiasati rasa kantuk. Sampai sekarang ini, saya masih belum menemukan cara untuk mengatasi rasa kantuk tersebut. Tadi pagi, saya mencoba menyebarkan pertanyaan saya tersebut di sosial media. Dan mendapat jawaban, untuk mencuci muka dan memakan cabe. Hahaha.. saran yang cukup konyol sebenarnya, tapi mungkin efektif. Karena memang saya harus bisa melakukan semuanya sendiri. Kalau selama ini orang-orang menggembar-gemborkan slogan kesetaraan gender. Mungkin memang benar adanya kalau hal tersebut hanyalah omong kosong belaka. Para suami hanyalah orang yang sanggup memerintah dan komplain. Sehingga saya menyadari ketika para ibu menjadi orang yang paling senewen, ya wajar. Beban kegiatan yang demikian kompleks di rumah, dan tingkat stress tinggi yang menjadi pemicu awal mengapa ibu-ibu tersebut mempunyai sifat yang nyaris seragam. Bawel. Back to the project. Berharap saya bisa menyelesaikan sesuai dengan rencana saya. Apalagi kelak bila masa cuti melahirkan saya telah berakhir. Pastinya saya akan lebih repot lagi. Namun, itu belum dijalani. Saya sedang belajar untuk berdamai dengan pikiran saya sendiri. Alias tidak mau untuk mengandaikan semuanya. Banyak pasangan yang selama ini saya kenal, tidak menggunakan tenaga pembantu dalam menyelesaikan pekerjaan domestic. Nyatanya mampu kok. Ibu saya sendiri saja, selama puluhan tahun tidak menggunakan pembantu dalam mengasuh saya dan kakak saya. Berhasil juga. Tapi ibu saya tidak bekerja di luar rumah memang. Mungkin ibu dosen saya, yang bisa dijadikan role model. Namun, mengajar kan jam kerjanya fleksible. Tidak seperti perusahaan yang kudu 9 to 5. Baiklah, saya masih belum menjalaninya. Tidak usah memperkirakan kejadian yang belum pasti akan terjadi. Selalu ada jalan ketika kita mau berusaha dan berdoa. Tetap meneruskan project. Mumpung ibu masih ada disini, bisa dimaksimalkan kegiatan project tersebut. Atau browsing cara menghilangkan kantuk selain dengan tidur dan minum kopi. Mengalahkan rasa malas, adalah dengan terus bergerak. Tadi saya menemukan trik tersebut. Rasanya menyenangkan kok. Saya tidak ingin menjadi orang yang tidak konsisten. Ketika saya mencibir orang yang malas, artinya saya punya konsekuensi logis untuk tidak malas dunk. Karena saya benci dengan pakaian yang menumpuk, maka setiap pagi, saya usahakan pertama kali gerakan badan saya adalah mencuci pakaian bayi. Musim hujan tidak bisa ditebak. JIka menjelang siang, sepertinya saya kudu mampu untuk setrika. Kembali melawan rasa kantuk. Belum lagi jika bayi saya rewel. Please, semoga dirimu selalu baik-baik saja ya, Girl. Project ibu, masih belum kelar. Tolong dukungan dan pengertiannya.. hehehe..

Rabu, 16 Januari 2013

Material

Kebetulan saya di kelilingi oleh wanita-wanita hebat, ibu saya, ibu mertua dan teman-teman wanita yang memang ulet untuk mengisi hidup dengan kerja keras. Ibu saya, dengan usia lebih dari 65 tahun masih aktif di kegiatan kampung. Usia yang kadang membuat orang lain iri karena kegesitan ibu saya tersebut dalam berkegiatan. Masih bisa mengomel pada polisi yang akan memberikan sanksi tilang pada ibu saya karena ibu saya kena razia mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM. Alhasil, bapak saya yang mengantar ibu saya untuk mengikuti sidang diantara sekian banyak mahasiswa dan anak-anak muda lainnya yang juga terkena razia. Kelakuan aneh nenek-nenek gokil. Maka dari itu, ibu-ibu sekitar rumah masih menganggap ibu saya mampu menjadi pengurus RW yang bisa diandalkan. Padahal sesungguhnya, ibu saya itu sudah sangat malas untuk melakoni kegiatan kelurahan dan sebagainya tersebut. Tapi demi kepercayaan dan rasa tenggang rasa pada warga kampung, ibu saya masih mau sibuk dengan kegiatan kelurahannya tersebut. Ibu mertua saya juga termasuk wanita perkasa, dengan menggeluti usaha warung makan masakan Padang dimana yang masak bukan orang Padang, namun bisa menghasilkan masakan Padang yang selalu dinanti pelanggannya. Bangun pagi sekitar Shubuh, belanja ke pasar untuk mendapatkan sayur dan lauk segar, kemudian mengolahnya untuk target membuka warung sekitar jam 10an. Daily, mengawasi pekerjaan anak buah, melayani pembeli, memotong ikan dan berbagai hal lainnya yang berkaitan dengan memasak masakan tersebut, dilakukan sendiri. Artinya dalam pengawasannya. Tutup warung mungkin sekitar pukul 7 malam, itu pun belum tentu bisa istirahat, karena memang harus menyiapkan bumbu untuk masakan esok hari, ataupun menghangatkan masakan. Tidak terbayangkan betapa lelahnya bekerja fisik seperti itu. Namun demi kelangsungan hidup banyak orang, dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat, berbisnis pada sektor riil, memang lebih menghasilkan. Membiayai sekolah kerabat jauh, membayar tagihan, dan seabrek pengeluaran lainnya. Kemudian seorang teman wanita saya, yang sumpah.. sangat gigih untuk selalu ulet bekerja keras, siang malem.. kayak parkiran motor. Pagi, dia berkantor di sebuah perusahaan besar penyedia sparepart alat-alat berat. Segudang bisnis MLM yang dia geluti, belum lagi kalau ada teman yang berangkat keluar daerah, pasti minta titip barang-barang yang bisa dijual kembali disini. Malam harinya, dia masih mengawasi sebuah warung makan yang lumayan terkenal di sini. Bener-bener wanita yang perkasa. Cerdas dalam memanfaatkan waktu hidupnya untuk selalu menghasilkan sesuatu. Saya saja melihatnya sampai salut sekali. Karena saya pengen sebetulnya begitu. Cuma yang saya lakukan, adalah bekerja siang pada perusahaan, malemnya ngajar. Udah segitu ajah. Jualan baju, masih dibilang gagal. Karena uangnya pergi entah kemana digunakan untuk konsumsi lainnya. Haadeeww, pusing saya. Tahun ini, saya rencananya memang pengen belajar bisnis, jualan sesuatu, Cuma sampai sekarang, saya masih pusing, jualan apa yang cocok. Dulu jualan pulsa, yang ada tekor, karena kebanyakan yang utang.. hehehe.. padahal menurut saya, jualan model begitulah yang seharusnya saya geluti. Bukan barang yang kudu cepat habis dan semua orang membutuhkannya. Mengikuti kegiatan MLM juga terkendala dengan pemasaran. Pangsa pasar saya, hanya kantor, rumah dan tempat les. MLM yang saya ikuti, isinya berjualan produk wanita. Tas, aksesoris, baju dan sebangsanya. Di kantor pun, beberapa teman telah menjalani bisnis yang sama. Jadi kalaupun saya mengikutinya, ya sama juga boong, ntar dikira saling memangsa konsumen orang. Kebutuhan hidup memang akan selalu terus meningkat sesuai dengan pertambahan itu sendiri. Dulu, saya mampu menghidupi diri dengan sewa kamar empat ratus ribu rupiah. Kemudian saya menikah, kebetulan kami menemukan rumah sewa yang cukup murah, yaitu enam ratus ribu rupiah, termasuk listrik dan air. Cukup menyenangkan, hingga betah selama 2 tahun untuk tidak pindah lagi. Lingkungan yang kekeluargaan dan dekat dengan tempat belanja. Saat perlu rumah lagi karena butuh tempat yang lebih luas lagi, rasanya masih sayang untuk pergi dari rumah itu. Sungguh, ibu dan bapak kost, sudah kita anggap seperti keluarga sendiri. Oleh karena itu, begitu mendapatkan rumah baru, kami mencarinya betul-betul dengan seleksi yang baik. Memperhatikan kondisi lingkungan, listrik dan air. Semoga saja, ibu dan bapak kost yang baru, tidak menaikkan sewa rumah ini. Kehadiran anak juga turut mempengaruhi orientasi keuangan. Kini tak lagi, gaji saya mungkin memang harus dibagi lagi untuk mencukupi kebutuhan saya dan anak. Sedangkan gaji suami, khusus untuk ditabung. Mengingat kebutuhan kadang terjadi secara mendadak. Jadi saya masih berpikir, akan menjalani bisnis yang bagaimana lagi? Kudu berkonsultasi dengan siapa ya? Sedangkan kemampuan saya hanya bisa menulis saja. Bisnis apa yang bisa dilakoni dengan menulis? Hehehe.. masa hanya menjadi blogger, cuap-cuap curhat tidak jelas begini. Mana bisa menghasilkan uang kalau caranya begitu. Atau memang kudu membaca ide kreatif dengan internet. Mau jualan barang di group BB, udah banyak juga yang broadcast hal yang sama. Hadeewww.. semoga segera datang ide tersebut. Bisnis.. bisnis.. bisnis.. ayo semua orang bisa menghasilkan uangnya sendiri. Tetap semangat yaa…