kadang tulisan mampu menjadi senjata ampuh menyalurkan pikiran. hal yang tidak wajar menjadi hal yang wajar bila diekpresikan dalam blog. pikiran tidak hanya menjadi pikiran saja, melainkan hal nyata yang bisa dinikmati dalam khasanah bacaan.
Minggu, 19 Mei 2013
About The Ex
Berikut tentang beberapa kalimat yang waktu lalu saya rangkum dari Kulwit Alberthiene Endah, tanggal 09 Maret 2013. Salah seorang penulis favorit saya, yang saya follow twitter-nya diantara penulis favorit saya lainnya. Begini Alberthiene Endah menulis :
1. Banyak banget ya, tips menjelang nikah. Jarang ada tips menjelang cerai
2. Menurutku orang yang sukses dalam percintaan bukan yang awet sama seseorang. Tapi orang yang tidak pernah membenci dan dibenci mantan-mantannya.
3. Mantan itu “tempat belajar”. Belajar tau jeleknya kita. Belajar mengerti jeleknya pacar.
4. Mantan juga tempat “berlari”. Bayangannya Cuma kita yang tahu enaknya untuk diapain.
5. Fisiknya mantan. Bayangannya nggak. Itu yang terjadi pada yang susah move on.
6. Mantan juga tempat mengukir. Tentang seberapa sanggup menyuruh pikiran kita untuk lupa.
7. Mantan itu nggak perlu dilupain. Karena orang-orang yang indah memang ditakdirkan untuk teringat.
8. Sebagaimana pikiran kita mampu menyimpan banyak hal, begitu pula ruang hati terhadap mantan. Tak perlu diusir, karena memang mereka pernah ada di sana.
9. Bagaimanapun juga, meskipun sekarang sejauh matahari, dulu dia pernah sedekat nadi.
That’s all.
Ehhmmm, okay. Jlleebbbb…. Kultwit tersebut sempat menohok telak bagi saya. Karena memang mungkin saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa move on, dari 3 sosok lelaki yang pernah dekat dengan saya. 1 orang adalah mantan, 1 orang adalah selingkuhan abadi dan 1 orang adalah kasih tak sampai saya. Gile bener kan. Padahal mereka semua mungkin sudah tidak peduli lagi dengan saya. Bahkan saya sempat berpikir, jangan-jangan mereka pun sudah lupa dengan saya. Hihihi.. betapa saya ini tampak sangat mengenaskan sekali bukan. Namun tidak bisa saya pungkiri, saya sering bermimpi tentang mereka. Macem-macem ceritanya. Dari mulai jalan ke mall, jalan di padang rumput, ketemu di ruang bandara dll. Uniknya dalam mimpi tersebut, sosok suami saya pun selalu menyertai saya. Setiap kali saya bangun tidur dengan mimpi aneh tersebut, saya selalu merasa geli. Saya bisa mengenang kembali mereka yang pernah sedekat nadi tersebut. Lucu sekali pikir saya. Saya berharap suatu saat, saya bisa melepaskan mereka semua dengan lega. Mungkin butuh waktu untuk lebih sibuk dari sekarang ini untuk bisa tiba-tiba memandang mantan tersebut sebagai bagian hidup. Kadang pikiran saya sering menghadirkan bayangan mereka, untuk sejenak istirahat dari hiruk pikuk suasana hati saya.
Namun sungguh, saya terlalu penakut untuk selalu berdekatan kembali secara nyata dengan mereka. Kecuali dengan orang kisah tak sampai saya itu. Masih aman, karena kebetulan dia bisa menjaga kenangan saya pada tempatnya. Dia menikah atau tidak pun, tidak memberitau saya. Hehehe.. jadi makin cinta deh padanya.. saya menganggap dia bijaksana dalam menyikapi saya yang berulang kali menyatakan cinta padanya dulu.. Tapi untuk mantan dan selingkuhan abadi saya, saya belum bisa mendekat kembali. Bahkan hingga account FB dan email nya, saya hapus. Demi menjaga kenangan indah saya tentang mereka pada tempatnya. Kebetulan mereka semua telah menikah pula. Saya terlalu takut untuk cemburu..hehehe.. Mungkin memang begitulah sifat saya yang tidak pernah bisa untuk terlalu dalam merasakan sakit. Menjauh dari bagian yang menurut saya bagian yang harus dikubur dalam. Bagi saya, dengan mengingat hal-hal yang indah, akan memompa semangat saya meraih hal-hal yang lebih baik lagi. Mengafirmasi bahwa saya bisa berkreasi dan optimis menjalani hidup. Makanya untuk mendekati mantan, saya lebih sering berpikir milyaran kali deh. Cukup mengakhirkan kisah cinta yang sedemikian kocak itu indah pada waktunya. Menjadikan bahwa semuanya harus selesai, tuntas disitu saja. Cukup dengan keindahan bayangannya saja yang kadang saya pikir, akan mengabur dengan sendirinya. Entah kapan. Pada masanya, kelak. Karena sampai sekarangpun, saya memang belum sanggup untuk bisa lupa. Merasakan bahwa sungguh, hal yang aneh ketika dulu dengan polosnya saya bisa menyerahkan hati, rasa dan jiwa. Untungnya Tuhan mempertemukan dengan suami saya, yang memang saya rasa pas untuk memahami tentang semuanya pada diri saya ini. Jadi ketika menikah pun, saya tidak merasa kehilangan jati diri dan pemikiran saya. Dan kebetulan sungguh merupakan hal menyenangkan ketika saya masih bisa melakukan hal-hal di "me time" seperti biasanya.
Senin, 25 Februari 2013
Setiap Tempat Punya Cerita [Arifah Erlisdyanah]
Judul : Pantai Nusakambangan, Kabupaten Cilacap
Niatnya memang penelitian dengan 3 dosen dan 2 orang teman baru. Sekitar tahun 2005 yang lalu. Selama waktu satu setengah minggu di tempat penelitian, yang kebetulan kita mengambil tempat di Kabupaten Cilacap, tentunya kurang afdol jikalau tidak berkunjung ke Nusakambangan yang terletak di selatan Kabupaten Cilacap. Akhirnya pada waktu luang, disela tugas melakukan penelitian tersebut kami berencana mengunjungi Nusakambangan. Dari pelabuhan Cilacap, kita menaiki kapal Ferry selama 15 menit. Sebagai tempat yang terkenal sebagai penjara bagi orang-orang yang telah melakukan kejahatan kelas berat. Lembaga pemasyarakatan yang terkenal sebagai tempat high security di Indonesia. Pada waktu itu, kami dipandu untuk berkeliling pulau selama 4 jam. Oleh pemandu dijelaskan tentang macam-macam rumah tahanan yang terdapat di Nusakambangan. Misalnya rutan batu, rutan kembang kuning dan beberapa lagi yang saya lupa namanya. Pada waktu itu, penghuninya masih terdapat Tommy Suharto, Amrozi dan penjahat terkenal lainnya. Nusakambangan yang memang disetting sebagai tempat lembaga pemasyarakatan, memang sekilas tampak menyeramkan. Suasana yang lenggang, hutan dan tanaman yang rimbun masih mendominasi sekitar daerah tersebut. Belum lagi, rumah penduduk yang tampak jarang, sering terasa lebih sepi. Mungkin dimaksudkan agar para tahanan lebih merasa terasing dengan dunia luar. Pemandu mengajak kami ke Gua Ratu. Goa ini panjangnya sekitar 4,5 km dan berujung di pantai selatan, untuk menelusuri goa ini ga bisa sembarangan karena pada kedalaman lebih dari 100 m karena akan membutuhkan tabung oksigen, katanya baru sedikit orang yang mampu menelusuri goa ini sampai ke ujung. Banyak penjual yang menjajakan kerajinan yang terbuat dari batu akik. Ternyata penjual tersebut, beberapa diantaranya merupakan mantan napi Nusakambangan. Mungkin ketika bebas, mereka tidak mempunyai tempat untuk kembali sehingga mereka memutuskan untuk tetap berada di Nusakambangan dan mencari nafkah dengan berjualan. Setelah beberapa saat berada di Gua Ratu. Kemudian pemandu mengajak kami ke pantai Nusakambangan. Di tempat inilah, saya merasakan keindahan yang luar biasa. Deburan ombak yang begitu kencang, dikombinasikan dengan batu karang yang kukuh berdiri, khas karakter Pantai Selatan Jawa, merupakan hal yang indah yang dipaparkan oleh Nusakambangan. Tampak dilatarbelakang kami, dibuat sebuah monumen yang berbentuk pisau komando Kopassus. Disampaikan oleh pemandu, bahwa monumen pisau komando tersebut dibuat karena di area tersebut memang sering digunakan oleh pasukan Kopassus untuk berlatih. Ingin rasanya bermain air disitu, namun karena dilarang oleh ibu dosen akhirnya yang kami lakukan hanyanya berjalan sejenak menyusuri pantai dan berfoto disela karang. Bentuk batu karang yang indah, pantai pasir putih dan riak air kecil yang menghempas pantai, merupakan hal indah yang saya temui. Berasa seperti berada pada gambar National Geographic. Tentunya bagi saya baru saja bergabung, memanfaatkan moment tersebut untuk mengakrabkan diri dengan 2 rekan baru saya tadi. Hingga sekarang ini, pertemanan saya dengan salah satu rekan penelitian saya masih terjalin baik. Sungguh menyenangkan sekali. Setelah beberapa saat beristirahat, kita kembali ke Pelabuhan Nusakambangan. Kembali menaiki kapal ferry untuk berlayar menuju Pelabuhan Cilacap. Meninggalkan pantai Nusakambangan yang akan selalu saya kenang sebagai tempat indah.
# Cerita ini diikutsertakan pada Setiap Tempat Punya Cerita
Niatnya memang penelitian dengan 3 dosen dan 2 orang teman baru. Sekitar tahun 2005 yang lalu. Selama waktu satu setengah minggu di tempat penelitian, yang kebetulan kita mengambil tempat di Kabupaten Cilacap, tentunya kurang afdol jikalau tidak berkunjung ke Nusakambangan yang terletak di selatan Kabupaten Cilacap. Akhirnya pada waktu luang, disela tugas melakukan penelitian tersebut kami berencana mengunjungi Nusakambangan. Dari pelabuhan Cilacap, kita menaiki kapal Ferry selama 15 menit. Sebagai tempat yang terkenal sebagai penjara bagi orang-orang yang telah melakukan kejahatan kelas berat. Lembaga pemasyarakatan yang terkenal sebagai tempat high security di Indonesia. Pada waktu itu, kami dipandu untuk berkeliling pulau selama 4 jam. Oleh pemandu dijelaskan tentang macam-macam rumah tahanan yang terdapat di Nusakambangan. Misalnya rutan batu, rutan kembang kuning dan beberapa lagi yang saya lupa namanya. Pada waktu itu, penghuninya masih terdapat Tommy Suharto, Amrozi dan penjahat terkenal lainnya. Nusakambangan yang memang disetting sebagai tempat lembaga pemasyarakatan, memang sekilas tampak menyeramkan. Suasana yang lenggang, hutan dan tanaman yang rimbun masih mendominasi sekitar daerah tersebut. Belum lagi, rumah penduduk yang tampak jarang, sering terasa lebih sepi. Mungkin dimaksudkan agar para tahanan lebih merasa terasing dengan dunia luar. Pemandu mengajak kami ke Gua Ratu. Goa ini panjangnya sekitar 4,5 km dan berujung di pantai selatan, untuk menelusuri goa ini ga bisa sembarangan karena pada kedalaman lebih dari 100 m karena akan membutuhkan tabung oksigen, katanya baru sedikit orang yang mampu menelusuri goa ini sampai ke ujung. Banyak penjual yang menjajakan kerajinan yang terbuat dari batu akik. Ternyata penjual tersebut, beberapa diantaranya merupakan mantan napi Nusakambangan. Mungkin ketika bebas, mereka tidak mempunyai tempat untuk kembali sehingga mereka memutuskan untuk tetap berada di Nusakambangan dan mencari nafkah dengan berjualan. Setelah beberapa saat berada di Gua Ratu. Kemudian pemandu mengajak kami ke pantai Nusakambangan. Di tempat inilah, saya merasakan keindahan yang luar biasa. Deburan ombak yang begitu kencang, dikombinasikan dengan batu karang yang kukuh berdiri, khas karakter Pantai Selatan Jawa, merupakan hal yang indah yang dipaparkan oleh Nusakambangan. Tampak dilatarbelakang kami, dibuat sebuah monumen yang berbentuk pisau komando Kopassus. Disampaikan oleh pemandu, bahwa monumen pisau komando tersebut dibuat karena di area tersebut memang sering digunakan oleh pasukan Kopassus untuk berlatih. Ingin rasanya bermain air disitu, namun karena dilarang oleh ibu dosen akhirnya yang kami lakukan hanyanya berjalan sejenak menyusuri pantai dan berfoto disela karang. Bentuk batu karang yang indah, pantai pasir putih dan riak air kecil yang menghempas pantai, merupakan hal indah yang saya temui. Berasa seperti berada pada gambar National Geographic. Tentunya bagi saya baru saja bergabung, memanfaatkan moment tersebut untuk mengakrabkan diri dengan 2 rekan baru saya tadi. Hingga sekarang ini, pertemanan saya dengan salah satu rekan penelitian saya masih terjalin baik. Sungguh menyenangkan sekali. Setelah beberapa saat beristirahat, kita kembali ke Pelabuhan Nusakambangan. Kembali menaiki kapal ferry untuk berlayar menuju Pelabuhan Cilacap. Meninggalkan pantai Nusakambangan yang akan selalu saya kenang sebagai tempat indah.
# Cerita ini diikutsertakan pada Setiap Tempat Punya Cerita
Sabtu, 09 Februari 2013
COMMITMENT
Emang yang namanya disiplin itu, susahnya minta ampun. Bertambahnya tanggung jawab dan rendahnya motivasi, kadang membuat saya harus memaksa diri saya sendiri agar tetap bisa melaksanakan kegiatan tersebut. Yaitu merawat anak. Sesuatu yang dulu tidak pernah saya bayangkan, akhirnya sekarang ini saya mengalaminya sendiri. Penuh dengan hiruk pikuk yang seringkali membuat saya stress. Mungkin terlalu lama single sehingga jiwa saya yang masih seenaknya ini belum bisa sepenuhnya berganti peran sebagaimana mestinya. Masih belum bisa merasakan tanggung jawab dan tetap mengagungkan egoisme. Parah sekali. Saya mencintai anak saya. Cuma sekarang ini, saya masih terlalu mencintai diri saya sendiri. Saya berusaha untuk mengubah mind set tersebut dalam benak saya. Memang butuh waktu. Menghancurkan kemalasan pada diri saya sendiri, itu menjadi pe-er terbesar saya saat ini.
Setelah melalui berbagai tantangan, akhirnya saya merasa bahwa cara menghilangkan malas dan mengantuk adalah dengan tetap bergerak. Cara tersebut cukup manjur. Efek sampingnya, badan saya mudah lelah. Karena sebenarnya saya memang belum boleh melakukan aktifitas yang berlebihan. Namun sepertinya cara yang mampu membuat saya tetap terjaga untuk bisa merawat anak. Karena pada saatnya nanti, saya harus mampu melakukan semuanya sendiri. Mengurus rumah, bayi dan suami. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya untuk saya alami sekarang. Cukup shock jg, jet lag atau apapun namanya. Membawa banyak perubahan kejiwaan. Namun sepertinya, memang harus dijalani. Artinya segala sesuatu akan ada awalnya. Seperti waktu saya lulus kuliah dulu. Pertama membuat surat lamaran kerja, tes kerja dan seterusnya. Kerja tidak enak untuk pertama kali. Sungguh merasa bukan bidang saya. Akhirnya, melamar pekerjaan yang sebenarnya sampai sekarang masih saya sesali untuk tidak menindaklanjutinya. Padahal mungkin sesungguhnya, itulah passion saya yang sesungguhnya. Karena saya senang sekali dengan kesempurnaan.
Tapi sudahlah. Untuk apa menyesali masa lalu, bukankah itu hanya sebagai acuan untuk masa depan. Yang jelas sekarang adalah bagaimana berkomitmen secara sungguh-sungguh pada kehidupan. Ketika orang bilang life begin at 30, atau 40, sepertinya yaa.. bagi saya, life begin at having responsibility. Apapun itu bentuknya. Entah itu pekerjaan kantor, pekerjaan rumah tangga ataupun seperti yang saya alami sekarang, mempunyai anak. Pokoknya memang hal-hal yang membutuhkan perhatian dan keseriusan tingkat tinggi. Saya mungkin memang berusaha untuk selalu serius terhadap apapun yang saya lakukan. Semoga ajah bisa yaa..
Sabtu, 19 Januari 2013
The Project
Saya sedang mengetes diri saya sendiri untuk mengerjakan suatu project. Tenggat waktu project tersebut sekitar Mei 2013. Dengan kesibukan saya mengurus bayi, sepertinya saya kudu ekstra kerja keras lagi. Karena memang tidak ada yang membantu untuk merawatnya. Ibu saya rencana akan kembali pulang ke Jogja, awal Februari ini. Sehingga otomatis, saya kudu bisa akrobat sendiri untuk menyelenggarakan kegiatan rumah tangga. Sebenarnya saya sedang membayangkan, bisa tidak ya, antara mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menyelesaikan project yang menjadi target saya tersebut. Karena awal pemberitahuan project tersebut memang awal tahun. Sedangkan saya tidak punya stok untuk melengkapi project tersebut, sehingga sekarang ini saya tengah mengerjakan hal tersebut. Kemudian penyakit kronis saya adalah paling malas menyelesaikan sesuatu yang sudah sudah saya mulai. Kadang ketika saya review, ya cuma terhenti sampai di tengah jalan saja. Tidak kemana-mana.
Hal kedua yang menjadi masalah sekarang, hanyalah energi untuk mengerjakan itu semua. Artinya, darimana saya mendapatkan energi untuk menyelesaikan semuanya itu. Musuh saya, hanyalah rasa kantuk. Mungkin saya tidak lapar, masih bisa menahan untuk tidak makan, saya masih sanggup. Tapi bagaimana mensiasati rasa kantuk. Sampai sekarang ini, saya masih belum menemukan cara untuk mengatasi rasa kantuk tersebut. Tadi pagi, saya mencoba menyebarkan pertanyaan saya tersebut di sosial media. Dan mendapat jawaban, untuk mencuci muka dan memakan cabe. Hahaha.. saran yang cukup konyol sebenarnya, tapi mungkin efektif. Karena memang saya harus bisa melakukan semuanya sendiri. Kalau selama ini orang-orang menggembar-gemborkan slogan kesetaraan gender. Mungkin memang benar adanya kalau hal tersebut hanyalah omong kosong belaka. Para suami hanyalah orang yang sanggup memerintah dan komplain. Sehingga saya menyadari ketika para ibu menjadi orang yang paling senewen, ya wajar. Beban kegiatan yang demikian kompleks di rumah, dan tingkat stress tinggi yang menjadi pemicu awal mengapa ibu-ibu tersebut mempunyai sifat yang nyaris seragam. Bawel.
Back to the project. Berharap saya bisa menyelesaikan sesuai dengan rencana saya. Apalagi kelak bila masa cuti melahirkan saya telah berakhir. Pastinya saya akan lebih repot lagi. Namun, itu belum dijalani. Saya sedang belajar untuk berdamai dengan pikiran saya sendiri. Alias tidak mau untuk mengandaikan semuanya. Banyak pasangan yang selama ini saya kenal, tidak menggunakan tenaga pembantu dalam menyelesaikan pekerjaan domestic. Nyatanya mampu kok. Ibu saya sendiri saja, selama puluhan tahun tidak menggunakan pembantu dalam mengasuh saya dan kakak saya. Berhasil juga. Tapi ibu saya tidak bekerja di luar rumah memang. Mungkin ibu dosen saya, yang bisa dijadikan role model. Namun, mengajar kan jam kerjanya fleksible. Tidak seperti perusahaan yang kudu 9 to 5. Baiklah, saya masih belum menjalaninya. Tidak usah memperkirakan kejadian yang belum pasti akan terjadi. Selalu ada jalan ketika kita mau berusaha dan berdoa. Tetap meneruskan project. Mumpung ibu masih ada disini, bisa dimaksimalkan kegiatan project tersebut. Atau browsing cara menghilangkan kantuk selain dengan tidur dan minum kopi. Mengalahkan rasa malas, adalah dengan terus bergerak. Tadi saya menemukan trik tersebut. Rasanya menyenangkan kok. Saya tidak ingin menjadi orang yang tidak konsisten. Ketika saya mencibir orang yang malas, artinya saya punya konsekuensi logis untuk tidak malas dunk. Karena saya benci dengan pakaian yang menumpuk, maka setiap pagi, saya usahakan pertama kali gerakan badan saya adalah mencuci pakaian bayi. Musim hujan tidak bisa ditebak. JIka menjelang siang, sepertinya saya kudu mampu untuk setrika. Kembali melawan rasa kantuk. Belum lagi jika bayi saya rewel. Please, semoga dirimu selalu baik-baik saja ya, Girl. Project ibu, masih belum kelar. Tolong dukungan dan pengertiannya.. hehehe..
Rabu, 16 Januari 2013
Material
Kebetulan saya di kelilingi oleh wanita-wanita hebat, ibu saya, ibu mertua dan teman-teman wanita yang memang ulet untuk mengisi hidup dengan kerja keras. Ibu saya, dengan usia lebih dari 65 tahun masih aktif di kegiatan kampung. Usia yang kadang membuat orang lain iri karena kegesitan ibu saya tersebut dalam berkegiatan. Masih bisa mengomel pada polisi yang akan memberikan sanksi tilang pada ibu saya karena ibu saya kena razia mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM. Alhasil, bapak saya yang mengantar ibu saya untuk mengikuti sidang diantara sekian banyak mahasiswa dan anak-anak muda lainnya yang juga terkena razia. Kelakuan aneh nenek-nenek gokil. Maka dari itu, ibu-ibu sekitar rumah masih menganggap ibu saya mampu menjadi pengurus RW yang bisa diandalkan. Padahal sesungguhnya, ibu saya itu sudah sangat malas untuk melakoni kegiatan kelurahan dan sebagainya tersebut. Tapi demi kepercayaan dan rasa tenggang rasa pada warga kampung, ibu saya masih mau sibuk dengan kegiatan kelurahannya tersebut.
Ibu mertua saya juga termasuk wanita perkasa, dengan menggeluti usaha warung makan masakan Padang dimana yang masak bukan orang Padang, namun bisa menghasilkan masakan Padang yang selalu dinanti pelanggannya. Bangun pagi sekitar Shubuh, belanja ke pasar untuk mendapatkan sayur dan lauk segar, kemudian mengolahnya untuk target membuka warung sekitar jam 10an. Daily, mengawasi pekerjaan anak buah, melayani pembeli, memotong ikan dan berbagai hal lainnya yang berkaitan dengan memasak masakan tersebut, dilakukan sendiri. Artinya dalam pengawasannya. Tutup warung mungkin sekitar pukul 7 malam, itu pun belum tentu bisa istirahat, karena memang harus menyiapkan bumbu untuk masakan esok hari, ataupun menghangatkan masakan. Tidak terbayangkan betapa lelahnya bekerja fisik seperti itu. Namun demi kelangsungan hidup banyak orang, dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat, berbisnis pada sektor riil, memang lebih menghasilkan. Membiayai sekolah kerabat jauh, membayar tagihan, dan seabrek pengeluaran lainnya.
Kemudian seorang teman wanita saya, yang sumpah.. sangat gigih untuk selalu ulet bekerja keras, siang malem.. kayak parkiran motor. Pagi, dia berkantor di sebuah perusahaan besar penyedia sparepart alat-alat berat. Segudang bisnis MLM yang dia geluti, belum lagi kalau ada teman yang berangkat keluar daerah, pasti minta titip barang-barang yang bisa dijual kembali disini. Malam harinya, dia masih mengawasi sebuah warung makan yang lumayan terkenal di sini. Bener-bener wanita yang perkasa. Cerdas dalam memanfaatkan waktu hidupnya untuk selalu menghasilkan sesuatu. Saya saja melihatnya sampai salut sekali. Karena saya pengen sebetulnya begitu. Cuma yang saya lakukan, adalah bekerja siang pada perusahaan, malemnya ngajar. Udah segitu ajah. Jualan baju, masih dibilang gagal. Karena uangnya pergi entah kemana digunakan untuk konsumsi lainnya. Haadeeww, pusing saya. Tahun ini, saya rencananya memang pengen belajar bisnis, jualan sesuatu, Cuma sampai sekarang, saya masih pusing, jualan apa yang cocok. Dulu jualan pulsa, yang ada tekor, karena kebanyakan yang utang.. hehehe.. padahal menurut saya, jualan model begitulah yang seharusnya saya geluti. Bukan barang yang kudu cepat habis dan semua orang membutuhkannya. Mengikuti kegiatan MLM juga terkendala dengan pemasaran. Pangsa pasar saya, hanya kantor, rumah dan tempat les. MLM yang saya ikuti, isinya berjualan produk wanita. Tas, aksesoris, baju dan sebangsanya. Di kantor pun, beberapa teman telah menjalani bisnis yang sama. Jadi kalaupun saya mengikutinya, ya sama juga boong, ntar dikira saling memangsa konsumen orang.
Kebutuhan hidup memang akan selalu terus meningkat sesuai dengan pertambahan itu sendiri. Dulu, saya mampu menghidupi diri dengan sewa kamar empat ratus ribu rupiah. Kemudian saya menikah, kebetulan kami menemukan rumah sewa yang cukup murah, yaitu enam ratus ribu rupiah, termasuk listrik dan air. Cukup menyenangkan, hingga betah selama 2 tahun untuk tidak pindah lagi. Lingkungan yang kekeluargaan dan dekat dengan tempat belanja. Saat perlu rumah lagi karena butuh tempat yang lebih luas lagi, rasanya masih sayang untuk pergi dari rumah itu. Sungguh, ibu dan bapak kost, sudah kita anggap seperti keluarga sendiri. Oleh karena itu, begitu mendapatkan rumah baru, kami mencarinya betul-betul dengan seleksi yang baik. Memperhatikan kondisi lingkungan, listrik dan air. Semoga saja, ibu dan bapak kost yang baru, tidak menaikkan sewa rumah ini. Kehadiran anak juga turut mempengaruhi orientasi keuangan. Kini tak lagi, gaji saya mungkin memang harus dibagi lagi untuk mencukupi kebutuhan saya dan anak. Sedangkan gaji suami, khusus untuk ditabung. Mengingat kebutuhan kadang terjadi secara mendadak. Jadi saya masih berpikir, akan menjalani bisnis yang bagaimana lagi? Kudu berkonsultasi dengan siapa ya? Sedangkan kemampuan saya hanya bisa menulis saja. Bisnis apa yang bisa dilakoni dengan menulis? Hehehe.. masa hanya menjadi blogger, cuap-cuap curhat tidak jelas begini. Mana bisa menghasilkan uang kalau caranya begitu. Atau memang kudu membaca ide kreatif dengan internet. Mau jualan barang di group BB, udah banyak juga yang broadcast hal yang sama. Hadeewww.. semoga segera datang ide tersebut. Bisnis.. bisnis.. bisnis.. ayo semua orang bisa menghasilkan uangnya sendiri. Tetap semangat yaa…
Senin, 14 Januari 2013
Embrio part 1
Perhaps this is the first journal about my pregnancy experiences. Mungkin karena saya bukan orang yang percaya dengan hal-hal yang berbau tahayul, akhirnya saya mulai menggabungkan pengalaman orang-orang disekitar saya untuk masukkan dalam akal saya sehingga tetap bisa saya maklumi. Walaupun kadang agak sedikit memaksa, jadi saya lakukan hanya dengan sebuah tindakan saja tanpa bermaksut apa-apa. Kebetulan saya seorang muslim, sehingga sedikit banyak saya juga belajar untuk bisa memahami bahwa musyrik merupakan hal yang dilarang agama saya. Sedangkan kasusnya, saya tinggal bersama dengan keluarga besar suami saya yang masih memegang teguh adat dan budaya yang kadang menurut saya tidak masuk akal. Namun menghormati orang tua merupakan hal yang diwajibkan, terpaksalah saya menuruti anjuran tersebut, tapi dengan tidak mengimaninya. Just bring a scissors when I’m going out. It doesn’t make a sense what I’ve done. But I really did it. Just because my respect to my husband mom. Sometimes I think that it could be possible to prevent a danger. But in this save neighborhoods, either I never walk alone, why suppose I bring that things?
Kultur Jawa yang mengalir kental in my hole bloods, tidak membuat saya dengan serta merta dianjurkan untuk melakukan ritual aneh seperti yang dulu ibu saya lakukan. Mungkin karena ibu saya lebih memahami bahwa anaknya tidak lagi hidup dalam jaman yang penuh dengan hal-hal yang bisa dianggap tabu, sehingga ibu saya hanya menekankan pada asupan gizi dan perilaku yang menunjang saja. Seperti tidak menggunakan highheels, membuat makanan yang sekiranya memang diperlukan untuk pertumbuhan janin. That’s all. Sesuatu yang bisa saya terima dengan baik, karena jika ibu saya menyarankan hal-hal yang tidak masuk akal, yang ada hanya akan saya bantah. Sedangkan ibu saya sudah hapal dengan sikap tidak percayaan saya tersebut. Akhirnya cukup hal-hal normatif yang ibu saya sarankan. Begitulah enaknya ketika mempunyai ibu yang bisa mengerti tentang perkembangan permikiran anaknya yang semakin skeptis memandang tradisi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan superstitious. Jadi hasilnya ya begini, gado-gado dengan segala hal yang masuk akal dan kadang lebih sering saya simpan. It’s about the weird things. But it’s okay. Lha habis mau gimana lagi, karena memang semuanya punya pemikiran masing-masing untuk tetap menjalankan tradisi. Istilah waktu saya kuliah dulu, penjaga tradisi. Biasanya memang orang-orang yang menjadi penjaga tradisi merupakan orang yang kental sekali pemahamannya dengan segala rupa adat. Seniman, orang-orang tua dan segelintir orang yang dengan sadar, memahami estetika tersebut tetap kudu dilestarikan. Begitu pula ketika, bayi belum genap 35 hari, belum boleh ditaruh di lantai. Waduh, dengan kondisi rumah kontrakan saya yang minimalis, semuanya melantai. Gimana dunk? Hihihi.. Kebetulan saya bukan tipikal orang yang menggilai furniture rumah. Perabotan yang saya punyai, memang menyesuaikan dengan fungsinya. Saya cuma punya lemari buku, meja belajar kecil untuk mengetik, kursi plastic, lemari makan, lemari pakaian, dan meja makan hasil kreatif suami.
Ketika hamil pun, saya dilarang untuk potong rambut oleh ibu mertua saya. Saya tanggapi bahwa saya memang dituntut untuk selalu belajar sabar. Gile ajah, dengan kondisi cuaca ekstrem luar biasa panas, saya sibuk mengurus rambut saya yg cukup tebal dan panjang. Merepotkan memang, tapi ya sudahlah. Begitu pula dengan larangan mandi malam. Saya menanggapinya bahwa agar kesehatan ibu hamil tetap terjaga alias tidak masuk angin. Saya kebetulan memang alergi dengan panas. Saya lebih suka kedinginan ketimbang kepanasan. Ketika saya hamil kemarin, cuaca panas luar biasa memaksa saya untuk selalu berkeringat, lengket, panas dan banyak ketidaknyamanan yang menyertainya. Saya memutuskan untuk memperbanyak frekuensi mandi saya. Siang tengah hari, saya usahakan untuk mandi. Segarnya nyata kok, lumayan bisa menghilangkan kantuk akut. Kinerja di kantor, lebih semangat lagi, karena badan memang segar setelah istirahat. Kemudian, sekitar jam 8 malam, saya kembali mandi, nah kali ini dengan sembunyi-sembunyi tentunya. Karena bila ketauan, akan kena marah. Dalam anggapan, bila mandi malam, ketika lahiran nanti, akan keluar air terus menerus dan tidak baik bagi bayi karena dapat mengakibatkan kekurangan cairan. Ya sudahlah.. saya berusaha menuruti semua nasehat orang-orang yang sayang pada saya. Walaupun pada pelaksanaannya, tidak sempurna sama sekali.
Emotional Connection
Menjalani kehidupan dengan pasangan, kadang sering mengalami pasang surut. Begitu pula yang sedang dialami oleh saudara ipar saya. Suaminya yang terliat selama ini, pendiam, penurut dan kalem, ternyata atas pengakuannya sendiri melakukan affair dengan teman sekantornya yang dilakukan sejak lama. Cukup menghebohkan keluarga besar suami saya, mungkin sampai sekarang ini. Karena saya tidak lagi tinggal dalam keluarga extend family, makanya saya tak lagi mengikuti perkembangan peristiwa tersebut secara langsung. Pada dasarnya saya lebih suka mengamati dan menganalisa motif dari affair tersebut. Biasanya saya hanya berperan sebagai pendengar yang baik. Kalau pas dicurhatin yaa.. saya dengarkan.. kalau pun tidak, saya tidak terus berusaha mencari info tambahan. Hidup saya sudah cukup rumit, masih saja ditambahin dengan mendengar urusan orang laen. Waduh.. bukan gaya saya sepertinya..
Kalau menurut saya, kondisi si suami melakukan affair, terlepas dari mungkin rasa suka pada pasangan affair-nya, saya merasa si suami merasa tertekan secara psikis dan material. Gaji yang terima sepertinya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang semakin hari semakin meningkat. Belum lagi tekanan yang diterima ketika tinggal pada keluarga extended family. Saya sendiri yang merasakan hanya tinggal selama 3 bulan, mengalami tekanan yang sama, secara psikis memang tidak sehat untuk tinggal dalam suatu extended family. Tapi masalahnya, ketika sekarang ini keluarga dituntut untuk mencari nafkah keduanya, maka terpaksalah, tinggal dalam suatu keluarga besar menjadi alternatif selain menyerahkan pengasuhan anak pada pembantu.
Berdasar studi M. Gary Neuman dalam buku The Truth About Cheating: Why Men Stray and What You Can Do To Prevent It, bahwa pria tidak akan berselingkuh hanya karena pasangannya tidak memberi kepuasan bercinta. Mereka berpaling karena semakin kurangnya aksi cinta seperti afeksi, telepon mesra, ciuman dan minimnya kualitas waktu berdua. Tanpa bermaksud membela kaum pria, wanita pun melakukan hal yang sama. Lack of emotional connection. Relationship itu butuh kerja keras. Satu-satunya cara yang akan menyelamatkan jalinan cinta yaitu dengan membangun penghalang untuk menyingkirkan ancaman “ketidaksetiaan”. Biasanya dapat ditempuh dengan penempatan persepsi, yaitu :
1. Tempatkan pasangan sebagai prioritas.
Melihat kasus saudara ipar saya tersebut, memang tampak sekali ketika peran ekonomi istri lebih dominan, selain tingkat pendapatan yang memang lebih besar daripada pendapatan suami. Namun tidak seharusnya membuat suami mengesampingkan kebutuhan istri, dan malah mencurahkan cerita-ceritanya pada orang lain. Mungkin memang pada dasarnya cinta, namun cinta itu harus dijalankan dengan logika, bahwa sekarang ini sudah bukan saatnya lagi untuk membagi cerita pada orang lain. Urusan keluarga menjadi hal yang utama. Apa gunanya menikah jika tidak bisa menempatkan pasangan sebagai sahabat? Karena menurut saya, selain peran suami atau istri, cinta semakin lama akan berganti peran menjadi sayang, dan itu didapatkan dari rasa persahabatan dengan suami.
2. Pastikan bisa bicara saat apapun
Saya berpikir, bila pasangan memang sejak awal haruslah nyambung. Gile ajah, ketika memutuskan untuk hidup bersamanya, terus ternyata pasangan kita bukanlah orang yang nyambung untuk diajak gaul, cerita, bercanda atau hal menyenangkan lainnya. Haduh, saya tak sanggup membayangkan. Hidup berkeluarga merupakan komitmen yang tidak bisa diajak kompromi untuk melaksanakan hal yang menyenangkan. Setiap keluarga selalu punya moment dimana kegembiraan merupakan hal yang wajib ada.
3. Pasangan perlu tahu sesuatu… yang selama ini kita tutup rapat-rapat.
Kadang saya berpikir bahwa ada kalanya bahwa masa lalu merupakan hal yang perlu kita buang jauh dan kalau perlu, dilupakan. Misalnya kenangan pacaran bersama mantan pacar. Bagi saya, kalau memang saya ingin serius menjalani hidup dengan pasangan saya sekarang, lebih baik, lupakan kenangan dengan mantan pacar tersebut. Karena bila terus mengingatnya, yang ada justru saya akan membandingkan kondisi saat itu dengan saat sekarang ini. Tidak adil bagi pasangan sekarang ini, ketika sudah serius membangun komitmen bersamanya, namun masih saja membawa ingatan pada masa lalu. Bayangkan saja bila hal tersebut terjadi pada diri kita, ketika pasangan membayangkan kenangan masa lalu dengan mantan pacarnya. Sungguh menyakitkan. Jadi yang saya lakukan sekarang adalah membuang jauh, nomor telephon, akun FB dan twitter, alamat email, dan semua hal apapun yang berkaitan dengan mantan pacar. Karena pada dasarnya, saya bukan orang yang sanggup berdamai dengan masa lalu. Tipikal pendendam seperti saya ini, kadang memang butuh pemaksaan tersendiri agar saya bisa melupakan masa lalu. Memang butuh waktu untuk melakukan hal tersebut, namun demi kesehatan hubungan saya dengan pasangan dan mampu fokus pada masa depan anak-anak saya kelak, sepertinya langkah tersebut yang pas untuk saya lakukan.
4. Strategi saling mengisi
Seperti layaknya sebuah team work, perasaan terhadap pasangan merupakan rasa afeksi yang menempatkan kekurangan sebagai ladang amal untuk menutupinya dengan kelebihan yang kita miliki. Makanya ketika awal sebelum menikah, bisa seharusnya diukur, dengan segala kekurangannya, apakah kita mampu memaklumi dan memberikan hal yang terbaik dari diri kita agar mampu mengisi kekurangannya. Memaklumi segala hal yang kadang mengesalkan, memang butuh kesabaran extra. Apalagi ketika mungkin saat pacaran, sudah terlihat tanda-tanda kita tidak mampu mengisi kekurangannya, alangkah lebih baiknya, bila dikaji lebih lanjut bila berniat berkomitmen lebih serius lagi. Alangkah menyeramkannya ketika kelak, saat telah menikah, ternyata kita tidak sanggup saling mengisi. Dampaknya akan berbeda ketika berpisah ketika pacaran dan atau ketika menikah. Karena menikah, komitemen itu tidak hanya datang dari kedua belah pihak yang menikah, melainkan melibatkan extended family.
Ketika saya pindah dari extended family suami, rasanya memang lega dan menyenangkan. Bukan berarti saya merasakan kebebasan, namun lebih pada, saya tidak perlu lagi berakting dalam mengekspresikan gaya saya. Mau tiduran seharian, terserah saya. Mau tidak mandi, itu urusan saya dan bau badan saya, hehehe.. mau masak apa ajah, tidak ada yang komentar aneh. Mau berantem dengan suami, tidak perlu seluruh dunia tau.. Mau rumah berantakan, itu hak saya… hehehe..
Langganan:
Postingan (Atom)