kadang tulisan mampu menjadi senjata ampuh menyalurkan pikiran. hal yang tidak wajar menjadi hal yang wajar bila diekpresikan dalam blog. pikiran tidak hanya menjadi pikiran saja, melainkan hal nyata yang bisa dinikmati dalam khasanah bacaan.
Rabu, 30 November 2011
Self Control
Entah darimana datangnya rasa untuk selalu ingin membeli barang diskon, ato barang bagus ketika di outlet. Saya sendiri kadang sering tidak tahan untuk melihat barang bagus tersebut, apalagi ditambah dengan harga diskon. Atau barang yg laen, seperti BB. Semua barang elektronik, menurut saya pada akhir nya akan mencapai titik harga yg semakin turun. Kadang saya jg makin bingung, ketika BB mungkin fasilitasnya dibanding alat komunikasi yang laen, BBM ajah. Sudah. selebihnya bergantung pada kepiawaian sang pemilik untuk menambah aplikasi dari BB tersebut. Kalaupun ada yang tertarik dengan BB baru, please deh, wong fungsi nya sama loh. Mending tunggu sampai harganya agak miring, trus baru beli. Lha klo sampai harus mengorbankan diri untuk beli dengan harga diskon trus mendapat kejadian konyol. Waduh, hidup ini lebih indah daripada hanya sekedar antri beli BB. Mungkin inilah gaya sebagian orang-orang yang merasa hidupnya akan lebih lengkap dengan BB baru. Mungkin merasa bahwa BB baru ini bisa membuat hidupnya lebih berwarna. Tidak semua orang bisa merasa bahwa dengan BB nya yang sekarang ini, sudah cukup melakukan tugas dan fungsinya dengan baik. Mungkin mereka masih butuh sesuatu yang mampu menggairahkan hidupnya. alhasil, mereka dengan sukarela antri untuk beli BB dengan harga diskon demi mencapai tujuannya. entah demi gengsi, biar dianggap tidak gaptek ataupun yang laennya. Ini pernah saya alami ketika saya melihat sebuat Tas ransel merk elizabeth. Harganya sekitar 300ribuan. Kebetulan saya sangat menggemari tas ransel. Yang saya lakukan, saat timbul keinginan membelinya, saya bertanya, "Apakah dengan membelinya, akan meningkatkan pendapatan saya?" karena kadang ada juga yang membeli tas sebagai investasi. Langkah selanjutnya, saya kembali menengok tas ransel saya yang bertumpuk di lemari. Kemudian saya berpikir, tas elizabeth itu, jika saya beli, pasti nasibnya akan sama juga. Jadi saya putuskan untuk tidak membelinya. Mungkin tas itu akan lebih baik bila bersama dengan orang yang mampu memperlakukan secara layak. Saya tidak bermaksut mencontohkan perbuatan saya. Saya hanya ingin menggambarkan bahwa ternyata, kita sanggup kok mengendalikan diri, disertai dengan niat kuat untuk mengelola rasa ingin memiliki. Banyak hal laen yang masih bisa kita lakukan lebih dari sekadar menuruti keinginan. Kecuali emang diri kita udah bener2 menjadi milyader dan bisa mengalokasikan uang secara benar. Yaaa.. bebas ajah deh..
Senin, 14 November 2011
You don’t know what you’ve got, until it’s gone
Pada suatu ketika, saat tiba masanya, segala sesuatu harus kita jalani sendirian. Menapaki waktu tanpa teman dan orang-orang yang menyayangi kita. Ketika temaram malam, seakan selalu mengiringi langkah. Gelap, mengharap seberkas sinar bulan dapat menembus pekatnya malam. Berharap mampu menemukan jalan untuk pulang dalam kehampaan yang sangat. Mendengungkan dalam pikiran, bahwa semua akan baik-baik saja. Mengafirmasi diri sendiri, bahwa esok pasti mentari akan membagi sinarnya. Menumbuhkan bunga dan seisi alam semesta. Kelelahan dalam menekuni konsekuensi modernitas, kadang membuat semangat berusaha meredup. Jiwa yang terpanggang nafsu, membuatnya semakin lupa untuk menemukan oase mimpi yang mampu menebus dahaga pengetahuan yang selama ini mongering tertelah kepongahan rutinitas. Berdiri dalam masa yang jenuh dengan hal-hal yang absurd. Merindu sesuatu yang dulu pernah singgah di hati. Mengingat sesuatu indah yang entah telah berapa lama ditinggalkan. Hal-hal kecil yang dahulu terasa sangat biasa, ketika sekarang menjadi sesuatu yang paling dipuja untuk memenuhi kenangan. Berkah tersendiri ketika manusia memiliki memory yang luar biasa besar untuk mengingat kenangan indah. Kadang membuat sesuatu terkesan lebih bermakna. Beruntunglah ketika dahulu, menikmati segala hal dengan baik. Masa lalu yang begitu penuh warna sehingga ketika sekarang ketika hidup masing-masing, kenangan yang berwarna pula yang selalu akan tetap indah. Bersyukur ketika kelak mampu bercerita tentang hal-hal yang penuh warna itu pada generasi seterusnya. Mengisahkan hal-hal yang membuat mereka seharusnya menjadi tanda alarm ketika hendak melangkah kelak. Masalahnya hanya karena kita lahir lebih dulu, jadi ketika kita akan menjadi pencerita yang hebat juga, jika kita punya cerita hebat yang pernah kita tahu sebelumnya. hanya menggurui, cukup hanya menjadi pencerita, dan biarkan mereka yang akan mengambil kesimpulan. Kadang kesalahan kita sebagai orang tua, karena terlalu memandang remeh anak-anak muda tersebut sehingga seakan-akan kita lah yang benar. Padahal ini hanya masalah lebih dulu lahir. Mungkin hal-hal indah tersebut akan menjadi tetap indah ketika hanya berupa kenangan. Kadang reuni memang cukup mampu menepis romantisme masa sekarang. Mengulas senyum ketika kilasan gambar tentang kenakalan yang pernah dilakukan. Mungkin seharusnya memang begitu, memuaskan hasrat ketika masa muda masih bisa dijangkau. Dan selesai ketika tiba pada masanya usai. Titik dimana pada akhirnya kita harus membagi kesempatan untuk memikirkan diri sendiri dan konsentrasi pada hal-hal selain ego.
The Other Side of Story
“Sahabat mungkin akan pergi, tetapi persahabatan tidak akan pernah hilang”
Begitulah dulu saya pernah mendengar sesuatu kalimat yang disampaikan secara tidak sengaja oleh teman saya. Ketika itu akhir di masa kuliah, sekitar semester setelah menjelang skripsi usai. Saat berkumpul di perpustakaan pusat untuk menyerahkan bendelan skripsi sebagai syarat pengurusan gelar kesarjanaan di gedung rektorat. Berkumpul hanya dengan sahabat dekat yang sebentar akan berpisah, kembali ke tempat atau kota asal masing-masing. Mencoba merajut masa depan. Bagi yang memiliki IP lumayan tinggi, tentunya ada sedikit kebanggaan, mampu mencari pekerjaan atau bahkan mampu menciptakan pekerjaan. Bagi yang selama ini sudah bekerja, tinggal melanjutkan sedikit langkah untuk mendapatkan kehidupan yang semestinya. Kami lulus sekitar periode tahun 2003-2004. Sehingga detik ini, hanya tersisa segelintir orang yang bisa berkomunikasi. Baik melalui jejaring social, sms ataupun media lainnya. Sungguh mengharukan ketika sekarang saling bercerita tentang kondisi masing-masing. Keadaan yang sudah berkeluarga. Saling bercerita tentang suami, anak,ataupun keadaan diri sendiri yang penat dengan pekerjaan ataupun hal yang lain. Bercerita tentang mantan pacar dulu yang sekarangpun mungkin sudah berkeluarga dengan orang lain. Kadang ketika di facebook muncul tagging foto-foto jadul, sangat terasa kerinduan yang menyeruak muncul, “apakabar dia sekarang?” “bagaimana kondisinya sekarang?” Mendoakan hal-hal yang baik, menjadi obat yang menyenangkan untuk sekedar mengurangi rasa rindu tersebut. Teman-teman yang dahulu menjadi rekan seperjuangan di masa kuliah, kini sibuk memperjuangkan keadaan masing-masing. Apalagi dulu ketika saya belum menikah, dan berteman dengan teman-teman yang telah menikah. Kadang merasa aneh, belum menemukan pasangan yang tepat dan mereka selalu bertanya, “Kapan kamu menikah?”. Ironi yang tidak akan pernah selesai ketika sekarangpun, ketika selesai menikah, saya kembali ditanya, “Kapan punya anak?” pertanyaan yang tidak akan pernah bisa selesai terjawab. Tapi sungguh, kebersamaan itu tidak akan pernah bisa digantikan. Rasa indah yang selalu akan ada dalam setiap perjalanan hidup masing-masing dari kita yang dulu pernah bersama. Ketika sekarang, kita sudah semakin tua dan sibuk dengan urusan pribadi, akan selalu ada hal yang membuat saya selalu merindukan setiap detik kebersamaan. Perubahan yang terjadi, memang berlaku natural, seiring dengan bergantinya waktu. Teman sejati tidak akan pernah bisa melupakan hal yang indah. Bila sekarangpun telah berubah, maka sebenarnya hanya pergantian masa disaat cerita lain sedang berlangsung. Maka akan ada cerita lain disisi sebaliknya. Sahabat yang tidak sengaja mengingat ulang tahun sahabatnya, mungkin hanya hal sepele. Namun bagi sahabatnya tersebut merupakan hal yang sangat penting. Merindu teman-teman lama tidak akan pernah usang untuk diceritakan. Kenangan indah yang akan selalu terpatri dalam relung hati. Saat sekarang, kesibukan memang merentangkan jarak bagiku dan bagimu, namun bertemu dalam mimpi kadang cukup membuat cerita itu akan tetap selalu ada. Andaipun dirimu yang nun jauh disana, tetaplah dekat dalam hatiku. Bila dirimu telah tenang disana, tetapkan hidup dalam imaji kenangan kebersamaan yang tidak akan pudar
Begitulah dulu saya pernah mendengar sesuatu kalimat yang disampaikan secara tidak sengaja oleh teman saya. Ketika itu akhir di masa kuliah, sekitar semester setelah menjelang skripsi usai. Saat berkumpul di perpustakaan pusat untuk menyerahkan bendelan skripsi sebagai syarat pengurusan gelar kesarjanaan di gedung rektorat. Berkumpul hanya dengan sahabat dekat yang sebentar akan berpisah, kembali ke tempat atau kota asal masing-masing. Mencoba merajut masa depan. Bagi yang memiliki IP lumayan tinggi, tentunya ada sedikit kebanggaan, mampu mencari pekerjaan atau bahkan mampu menciptakan pekerjaan. Bagi yang selama ini sudah bekerja, tinggal melanjutkan sedikit langkah untuk mendapatkan kehidupan yang semestinya. Kami lulus sekitar periode tahun 2003-2004. Sehingga detik ini, hanya tersisa segelintir orang yang bisa berkomunikasi. Baik melalui jejaring social, sms ataupun media lainnya. Sungguh mengharukan ketika sekarang saling bercerita tentang kondisi masing-masing. Keadaan yang sudah berkeluarga. Saling bercerita tentang suami, anak,ataupun keadaan diri sendiri yang penat dengan pekerjaan ataupun hal yang lain. Bercerita tentang mantan pacar dulu yang sekarangpun mungkin sudah berkeluarga dengan orang lain. Kadang ketika di facebook muncul tagging foto-foto jadul, sangat terasa kerinduan yang menyeruak muncul, “apakabar dia sekarang?” “bagaimana kondisinya sekarang?” Mendoakan hal-hal yang baik, menjadi obat yang menyenangkan untuk sekedar mengurangi rasa rindu tersebut. Teman-teman yang dahulu menjadi rekan seperjuangan di masa kuliah, kini sibuk memperjuangkan keadaan masing-masing. Apalagi dulu ketika saya belum menikah, dan berteman dengan teman-teman yang telah menikah. Kadang merasa aneh, belum menemukan pasangan yang tepat dan mereka selalu bertanya, “Kapan kamu menikah?”. Ironi yang tidak akan pernah selesai ketika sekarangpun, ketika selesai menikah, saya kembali ditanya, “Kapan punya anak?” pertanyaan yang tidak akan pernah bisa selesai terjawab. Tapi sungguh, kebersamaan itu tidak akan pernah bisa digantikan. Rasa indah yang selalu akan ada dalam setiap perjalanan hidup masing-masing dari kita yang dulu pernah bersama. Ketika sekarang, kita sudah semakin tua dan sibuk dengan urusan pribadi, akan selalu ada hal yang membuat saya selalu merindukan setiap detik kebersamaan. Perubahan yang terjadi, memang berlaku natural, seiring dengan bergantinya waktu. Teman sejati tidak akan pernah bisa melupakan hal yang indah. Bila sekarangpun telah berubah, maka sebenarnya hanya pergantian masa disaat cerita lain sedang berlangsung. Maka akan ada cerita lain disisi sebaliknya. Sahabat yang tidak sengaja mengingat ulang tahun sahabatnya, mungkin hanya hal sepele. Namun bagi sahabatnya tersebut merupakan hal yang sangat penting. Merindu teman-teman lama tidak akan pernah usang untuk diceritakan. Kenangan indah yang akan selalu terpatri dalam relung hati. Saat sekarang, kesibukan memang merentangkan jarak bagiku dan bagimu, namun bertemu dalam mimpi kadang cukup membuat cerita itu akan tetap selalu ada. Andaipun dirimu yang nun jauh disana, tetaplah dekat dalam hatiku. Bila dirimu telah tenang disana, tetapkan hidup dalam imaji kenangan kebersamaan yang tidak akan pudar
Kamis, 27 Oktober 2011
Waiting For
Sebenarnya kejadiannya simple saja. Ketika saya sedang menunggu untuk pelaksanaan tes masuk calon pegawai suatu perusahaan. Ada 12 peserta yang menjadi saingan saya untuk masuk di perusahaan tersebut. Sudah lama saya tidak belajar untuk melamar pekerjaan. Belajar soal-soal psikotes, TPA dan bahasa Inggris. Sungguh merupakan hal yang luar biasa, ketika saya kembali merasakan gairah luar biasa untuk mendapatkan sesuatu. Mungkin pada dasarnya, saya menyukai kompetisi. Hal-hal persaingan yang memunculkan sisi sikap terbaik yang dimiliki dalam diri kita. Berbuat sebaik mungkin. Namanya juga usaha, berusaha semaksimal dulu, walaupun akhirnya emang masih gagal, ya udah, setidaknya emang itu hasil dari usaha kita. Kudu emang lebih keras berusaha. Dari 12 peserta, tersisa 4 orang saja, termasuk saya. Namun pada akhirnya, saya tidak lolos masuk ke tahapan wawancara. hi..hi..hi.. perlu diketahui, bagi saya, itu merupakan prestasi. Prestasi mengalahkan rasa malas keluar dari zona kenyamanan. Terakir saya melamar kerja yaa... 3 tahun yang lalu. Bagi saya, butuh keberanian juga untuk melamar pekerjaan lagi. Sekarang pun, ketika saya punya dua pekerjaan sekaligus, rasanya juga menyenangkan. Mampu menumbuhkan semangat lagi pada pekerjaan utama saya. Alhamdulillah ya... sesuatu banget.. hahaha..
Selasa, 20 September 2011
the other HP
Tes..tes..semoga bs terbaca. Klo tbaca,artiny emg ga perlu lebih repot. Walau kadang repot itu sedikit perlu..
Rabu, 27 Juli 2011
Emansipation
Beberapa waktu lalu, saya tidak sengaja melihat tayangan sebuah infotainment di televisi. Tayangan itu sedang menampilkan wawancara dengan salah satu diva terkenal Indonesia yang berbahagia dengan perkawinan keduanya. Tentunya tayangan ini pun ditonton oleh berjuta masyarakat yang pada saat sekarang ini selalu tergila-gila dengan info tentang orang lain. Misalnya peristiwa seorang pesohor dari kalangan kepolisian hanya dengan cara simple yang semua orang biasa lainnya bisa lakukan. Hanya dengan moment yang tepat, bisa memutar balikan jalan hidup seseorang. Saya saja sampai kesulitan melepaskan berita tentangnya. Karena setiap berpindah channel, setiap kali itu pula, info tentang anggota kepolisian tersebut muncul. Kembali pada cerita tentang diva tadi. Salah satu segmen curhatnya, ketika ditanya oleh pewawancara, “Lalu bagaimana dengan karir mbak X, selanjutnya? Apakah akan tetap melanjutkan karir menyanyi atau tidak?” jawaban sang diva, “Saya bersyukur, suami saya masih mengijinkan saya untuk tetap menyanyi. Mungkin saya hanya tidak mengambil job di akhir pekan. Sehingga waktu saya bersama keluarga lebih banyak.” Menurut saya, cukup gawat juga pernyataan sikap seperti ini. Kembali mengambil resiko menjadi public figure yang menjadi tontonan jutaan orang. Kadang sikap pun cukup bisa menjadi tiruan bagi penggemarnya. Alangkah baiknya jika sikap yang ditampilkan pada khalayak merupakan sikap yang baik-baik secara normative.
Suami memang merupakan kepala keluarga yang harus menjadi leader yang baik. Namun bukan mutlak, mampu menjadi acuan arah perjalanan keluarga. Ada peran istri yang menjadi co-pilot. Ketika seorang istri memutuskan untuk bekerja, tidak berarti harus menunggu respon suami. Selama bekerja itu merupakan sikap ekspresif istri. Ketika abad sekarang, dimana wanita semakin bisa eksis dengan karya-karyanya, tentunya para suami akan lebih menghargai istri yang mandiri. Kemampuan untuk bekerja, merupakan sikap kuasa istri terhadap pendapatnya sendiri. Jika kebutuhan sekarang semakin tinggi, wanita tidak seharusnya hanya mampu mengerjakan pekerjaan domestik saja. Tidak selamanya, suami mampu menyediakan segala sesuatunya menjadi sempurna. Bekerja memang merupakan ekspresi. Tidak mutlak dilakukan jika suami mampu menanggung semua hal untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Zaman nabi saja, sudah dicontohkan, kemandirian wanita merupakan sarana yang baik untuk mendukung eksistensi keluarga. Dari mulai Khadijah sampai Aisyah, merupakan wanita-wanita cerdas yang tidak hanya saja mendampingi suami, tetapi tetap melakukan pekerjaan yang mampu menjadikan mereka wanita mandiri. Jadi bekerja merupakan hak wanita. Tak perlu menunggu ijin suami. Kalau suami yang mempunyai wawasan luas dan bijaksana, tentunya akan bangga ketika istrinya mempunyai kemandirian. Karena pada dasarnya suamilah yang diuntungkan, setidaknya bebannya menafkahi keluarga, agak lebih ringan. Jika pengertian bekerja adalah pegawai, dan suami menjadi lebih repot karena posisi istri lebih tinggi darinya. Sebaiknya usaha lebih keras lagi menundukkan ego yang tidak mau kalah dengan istrinya. Jika istri bekerja di rumah, alangkah baiknya jika suami mengerti tentang betapa repotnya mengasuh anak dan bekerja sekaligus. Banyak hal yang bisa dikomunikasikan secara sehat. Istri yang hanya sibuk mengurus kegiatan domestik rumah tangga, kecenderungannya tidak mampu mengimbangi pemikiran suami yang bekerja di luar rumah. Informasi diterima suami, akan mempengaruhi pola pikirnya. Jika istri yang aktif, tentunya kecerdasannya pun akan terus terasah sehingga mampu mengimbangi pemikiran suami. Karena istri mampu memahami suami dan sebaliknya.
Suami memang merupakan kepala keluarga yang harus menjadi leader yang baik. Namun bukan mutlak, mampu menjadi acuan arah perjalanan keluarga. Ada peran istri yang menjadi co-pilot. Ketika seorang istri memutuskan untuk bekerja, tidak berarti harus menunggu respon suami. Selama bekerja itu merupakan sikap ekspresif istri. Ketika abad sekarang, dimana wanita semakin bisa eksis dengan karya-karyanya, tentunya para suami akan lebih menghargai istri yang mandiri. Kemampuan untuk bekerja, merupakan sikap kuasa istri terhadap pendapatnya sendiri. Jika kebutuhan sekarang semakin tinggi, wanita tidak seharusnya hanya mampu mengerjakan pekerjaan domestik saja. Tidak selamanya, suami mampu menyediakan segala sesuatunya menjadi sempurna. Bekerja memang merupakan ekspresi. Tidak mutlak dilakukan jika suami mampu menanggung semua hal untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Zaman nabi saja, sudah dicontohkan, kemandirian wanita merupakan sarana yang baik untuk mendukung eksistensi keluarga. Dari mulai Khadijah sampai Aisyah, merupakan wanita-wanita cerdas yang tidak hanya saja mendampingi suami, tetapi tetap melakukan pekerjaan yang mampu menjadikan mereka wanita mandiri. Jadi bekerja merupakan hak wanita. Tak perlu menunggu ijin suami. Kalau suami yang mempunyai wawasan luas dan bijaksana, tentunya akan bangga ketika istrinya mempunyai kemandirian. Karena pada dasarnya suamilah yang diuntungkan, setidaknya bebannya menafkahi keluarga, agak lebih ringan. Jika pengertian bekerja adalah pegawai, dan suami menjadi lebih repot karena posisi istri lebih tinggi darinya. Sebaiknya usaha lebih keras lagi menundukkan ego yang tidak mau kalah dengan istrinya. Jika istri bekerja di rumah, alangkah baiknya jika suami mengerti tentang betapa repotnya mengasuh anak dan bekerja sekaligus. Banyak hal yang bisa dikomunikasikan secara sehat. Istri yang hanya sibuk mengurus kegiatan domestik rumah tangga, kecenderungannya tidak mampu mengimbangi pemikiran suami yang bekerja di luar rumah. Informasi diterima suami, akan mempengaruhi pola pikirnya. Jika istri yang aktif, tentunya kecerdasannya pun akan terus terasah sehingga mampu mengimbangi pemikiran suami. Karena istri mampu memahami suami dan sebaliknya.
Everybody Can Cook

Bagi saya, mungkin ini merupakan hal yang luar biasa. Sepanjang umur saya, hingga beberapa waktu lalu. Saya tidak pernah memasak makanan dengan berdasar pada racikan bumbu saya sendiri. Biasanya saya cuma berperan sebagai asisten koki. Misalnya memotong sayur, mengupas bumbu atau mengaduk adonan. Baru setelah saya mempunyai tempat tinggal sendiri, saya baru mempunyai keberanian untuk membuat masakan saya sendiri. Pada awalnya saya berdasar pada rasa yang selama ini saya makan. Thank’s to God, bahwa selama ini, lidah saya terbiasa dengan masakan ibu dan kakak perempuan saya yang memang sangat jago memasak. Dulu, sewaktu saya masih single, memasak merupakan momok tersendiri. Saya selalu ketakutan untuk hidup sendiri, karena kekurangan saya, tidak bisa menyediakan makanan. Sedangkan untuk membeli, artinya saya masih ketergantungan pada penjual makanan. Sebagai anak kost yang benar-benar jauh dari orang tua, kadang ada rasa kekhawatiran ketika penjual makanan tutup, maka saya akan mengalami kesulitan. Kelak pun, saya pasti harus berhadapan dengan bumbu dan berbagai macam hal nya tersebut. Maka mulailah saya memberanikan diri untuk memasak. Tentunya dengan bekal telephon kakak perempuan saya, karena jika saya telephon ibu, pasti nya saya kena omelan nya. Waduh, mending mencari aman saja. Kakak perempuan saya, sungguh dengan sabar mengajari adik perempuan nya yang tidak begitu cerdas ini untuk memperkirakan bumbu-bumbu. Resep sederhana mulai saya coba, yang penting, rasanya sudah terasa masuk akal. Pasti saya anggap masakan itu sukses. Sungguh tidak terkira rasa bersyukur saya, bahwa selama ini, saya mempunyai ibu dan kakak perempuan yang memanjakan saya dengan masakan yang enak, sehingga ketika sekarang, saya hanya mengira rasa masakan yang pernah saya makan dulu. Hasilnya tidak mengecewakan. Sirloin steak saya, cukup membuat orang lain yang merasakan mengatakan cukup enak. (entah mereka bilang dibawah tekanan atau memang karena perasaan tidak enak pada saya) hi..hi.. yang jelas, sejak saat itu, saya menemukan keasyikan baru, untuk lebih banyak mencoba masakan yang biasanya saya kudu merayu ibu atau kakak saya untuk membuatkan makanan yang saya ingin. Sekarang, setidaknya saya mampu membuatnya sendiri, walaupun harus melalui perjuangan panjang. Yang penting, saya belajar mandiri seutuhnya. Jika ingin mencoba masakan yang baru, saya bisa mendapatkan resep nya di internet atau majalah. Sekarang, saya menyadari betapa memasak mempunyai rasa keasyikan tersendiri yang berbeda dengan kesenangan saya yang lain. Acara favorit saya di televisi, selain film kartun, sekarang acara master chef, chef ala dan masih banyak acara masak-memasak lainnya. Apalagi pelan-pelan saya mulai mengumpulkan peralatan masak. Walau hanya sederhana, namun cukup dapat memuaskan rasa yang biasanya dengan mudah saya terima, karena di tempat kelahiran saya, semuanya serba tersedia. Sedangkan saya disini, ketika semua makanan tidak semua dapat saya nikmati secara mudah. Maka saya harus membuatnya. Not bad lah.. walau yang bilang enak, cuma saya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)