The leader is one who knows the way, goes the way, and show the way. – John C. Maxwell
Saya membaca ungkapan itu sempat tertegun, ketika menyadari bahwa ketika saya bekerja sekarang, tidak banyak atasan saya yang mengerti arti sesungguhnya tentang jabatan yang sekarang dijalani. Mungkin memang seperti bonafid ketika mereka menyandang jabatan tersebut. Padahal ketika saya menjadi bawahan,kadang tidak pernah menerima suatu bentuk leadership diantara atasan saya. Malah yang ada bekerja bersama-sama. Lha apa gunanya jabatan pemimpin jika hanya bekerja bersama-sama dengan bawahannya. Padahal ketika sekarang bawahan ini seperti kehilangan arah (perusahaan mulai kolaps dengan invansi pihak asing) mereka malah beramai-ramai meninggalkan pekerjaan, tidak ada yang merasa cocok dengan metode yang baru dari management atas yang menerapkan system tersebut. Kerja keras yang selama ini dilakukan, dibiarkan begitu saja. Padahal mereka termasuk para perintis yang keilmuan tentang masing-masing bidang departemen, cukup banyak faedahnya. Namun siapa juga yang tahu isi dalam hati dan pikiran orang, mungkin saja mereka benar-benar telah jenuh, tidak bisa lagi mengembangkan karir, kebutuhan hal yang seharusnya dipenuhi tidak kunjung teralisasi. Atau jauh dari keluarga, minim hiburan, banyak hal lah. Mungkin jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lebih dulu bekerja di perusahaan yang bonafid dalam arti yang sesungguhnya, tentunya secara gaji, mungkin ditempat saya bekerja, gaji benar-benar menjadi modal utama karyawan bekerja. Untuk ukuran pegawai administrasi seperti saya, gaji tersebut, cukup menggiurkan bagi kandidat yang berlomba untuk mengisi kekosongan posisi yang telah lama ditinggalkan. Hanya orang-orang yang terpilih saja, yang mampu mengemban sesuatu yang tidak jelas. Bahkan termasuk saya, yang dari awal tidak suka dengan system management baru ini, lama-lama akan merasa jenuh sekali. Namun, tenggat waktu yang dilakukan menunjukkan bahwa semua orang dinilai kapabilitasnya sebagai karyawan. Saya sendiri juga sedang mencoba memompa semangat saya dalam bekerja. Rasanya seperti mengalami kejenuhan yang luar biasa. Siapa lagi yang bisa membahagiakan diri kecuali diri sendiri. Saya sedang mengumpulkan lagi, semangat yang dulu pernah ada ketika awal saya bekerja. Bahkan departemen saya paling sering berganti kepemimpinan. Justru membuat saya bisa mengerti karakteristik seseorang. Bahkan termasuk pimpinan yang selama ini saya takuti karena kenakalannya. Sori, bos. Tidak bermaksud loh. Jadi tolonglah para pemimpin kami, sedikit melihat bahwa butuh management baru untuk berkolaborasi dengan bos-bos baru juga. Saya juga sedang berusaha. Kadang usaha itu diperlukan agar mampu beradaptasi dengan hal-hal yang selamanya tidak bisa dicerna dengan akal. Cukup mengerikan rasa putus asa saya ini. Tapi setidaknya saya juga harus berpikir ulang, untuk meninggalkan pekerjaan ini. Lha artinya saya harus mudik ke Jawa, dengan segenap penyesalan, kenapa saya harus ke tempat yang terpencil ini. Please help me, God. Show me the way..
kadang tulisan mampu menjadi senjata ampuh menyalurkan pikiran. hal yang tidak wajar menjadi hal yang wajar bila diekpresikan dalam blog. pikiran tidak hanya menjadi pikiran saja, melainkan hal nyata yang bisa dinikmati dalam khasanah bacaan.
Rabu, 27 April 2011
Sabtu, 05 Februari 2011
Newlywed
Ketika selesai akad nikah beberapa waktu lalu, yang saya rasakan, hal yang biasa sekali. Ketika saya berharap ada kejutan perasaan yang seperti dirasakan para pengantin laennya, saya tidak mendapatkannya. Semuanya berjalan seperti masa ketika saya pacaran dulu, biasa sekali. Entahlah, ada yang tidak beres sepertinya. Bahkan ketika ada seorang sodara yang mengatakan, "Ini pengantinnya ketawa terus..seneng ya udah nikah?" hi..hi.. padahal sesungguhnya bukan itu yang ada dalam benak saya kala itu. Saya sumringah karena berusaha menutupi kekurangan suami saya yang memang susah sekali untuk tersenyum. Padahal itu baru pertama kalinya saya dan mantan pacar saya menjadi beralih menjadi suami dan istri. Babak baru yang menandai kehidupan seumur hidup saya selanjutnya berawal dari hari itu. Sumpah yang akan selalu menjadi acuan saya mendampingi orang yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari orang laen. Sial, menjadi istri yang punya karakter, emang susah. Masalahnya kadang saya belum bisa menaklukkan emosi. Kenapa saya berani menikah dengannya? hi..hi.. absurd sekali jawabannya. Cuma kadang, rasanya sudah mulai aneh ketika jauh dari dirinya. Mungkin inilah, yang disebut pacaran setelah menikah. Sekarang, ketika bangun pagi, saya mengafirmasi diri saya sendiri, untuk menjadikan teman hidup saya, menjadi parter rumah tangga yang baik. Rasanya menyenangkan, ketika saya dan suami melakukan kegiatan rumah tangga bersama-sama. Ketika sekarang misalnya, saya sedang sendirian ditinggal suami bertugas, yaa.. rasanya seperti masa single dulu. Anggap saja, me time. Rasanya yang masih tetep merasa single walo sudah menikah. Yaaa, merasa hal sama. have fun ajah..
Senin, 20 Desember 2010
Stuck at The Moment part 2
Ini saat demotivasi yang paling parah. Setelah 2 tahun, saya bekerja pd perusahaan ini, saya merasa benar-benar dalam kondisi drop yang separah-parahnya. Biasanya, saya bisa mengalihkan perhatian sehingga bisa mulai mengawali semangat baru lagi. Namun, tidak tahu entahalah, ada apa dengan saya kali ini. Benar-benar lemah sekali. Ketika masuk kantor, rasanya sudah mual-mual. Menulis pun, saya lakukan ditengah jam kerja. Suatu hal yang parah sekali dalam hidup saya. Atau kah sudah saatnya saya mengawali sesuatu yang baru. Sepertinya menjadi penggangguran bukan menjadi pilihan sekarang. Atau mencoba pekerjaan baru lagi? atau saya malas untuk keluar dari zona kenyamanan saya. Rasanya benar-benar membingungkan. Memompa semangat untuk diri sendiri saja, kesulitan. Belum lagi, kondisi perusahaan sedang tidak stabil. Banyak rekan-rekan yang resign, karena management baru mungkin dirasa tidak sesuai dengan mereka. Saya merasa bisa bertahan, karena hanya sebagai admin, frekuensi konflik pun jarang terjadi. Sehingga saya, masih saja merasa bisa bekerja dengan baik. Lain hal nya dengan rekan-rekan yang mengalami efek secara langsung. Karena management dengan ketat mengawasi kinerja mereka. Pe-er saya sekarang, hanya membangun motivasi untuk diri saya sendiri. Mungkin butuh penyegaran. Cuti sudah dijadwalkan. Mungkin cuti kali ini, cuti paling stres yang saya alami. Merasa bahwa saya tidak berkembang. Hanya terkungkung dalam suasana aneh. Saya sedang berusaha dewasa, tidak hanya menjalani hidup saja. Harus mempunyai rencana. Namun saat ini, saya sedang tidak bisa berpikir. Huuff.. sial...
Sabtu, 18 Desember 2010
THE HARD TARGET
Sebenarnya ketika berbicara pencapaian, kadang saya tidak ingin memasang target. Hal ini menyakitkan ketika pada akhirnya nanti, kita tidak mampu mencapai target yang sebelum ditetapkan. Memang benar, kadang orang mengatakan gantungkan cita-cita mu setinggi langit. Namun jika kenyataannya, kita tidak mampu meraihnya, harus dikaji kembali tentang hal tersebut. Dimana letak kekurangan kita yang menyebabkan hal tersebut tidak mampu diselesaikan.
Dari sekian tahun yang saya lalui dengan mengenaskan, mungkin tahun inilah yang menjadi tolok ukur, bahwa saya sanggup menyelesaikan suatu hal yang dulu pernah saya mulai. Rasanya ketika mampu mencapainya, dunia seakan turut bernyanyi, serasa melihat pelangi di ujung langit dikala senja mulai menapak. Sedikit hiperbola, namun itulah rasa yang saya alami ketika mendapat hal yang sudah menjadi idaman saya sejak 10 tahun yang lalu. Padahal mungkin pencapaian saya ini, bagi orang lain merupakan hal yang biasa-biasa saja. Cukup menggelikan ketika mengingatnya. Pada saat sekarang, mungkin semua hal itu mengakibatkan hal itu selalu menjadi perhatian tersendiri. Secara saya sudah mempersiapkan semuanya ketika hal utama itu datang, terasa komplet. Sungguh aneh dan terasa norak. Tapi biarlah, tidak setiap tahun saya mampu mempersembahkan hal terbaik dalam hidup saya. Saya merasa tidak membutuhkan hal-hal lain. Ketika sekarang makin mutakhir perkembangan teknologi, saya juga tidak tertarik untuk menggantikan hal tersebut. Kadang memang segalanya harus dimulai dengan kecukupan. Saya hanya mengikuti perkembangannya saja. Namun tidak mengaplikasikan pada alat tersebut. Cukup mengetahuinya saja, sudah membuat hati ini menjadi senang. Tolok ukur kepuasan memang sungguh relative. Ketika saya berbicara tentang masalah fungsi. Sudahlah, hanya itu saja yang saya rasakan. Rasa yang dulu tidak pernah terbayangkan akan memilikinya. Mungkin inilah bentuk dari pembelajaran ikhlas. Walaupun disisi lain, kadang belum bisa saya terapkan. Tapi mungkin inilah pencapaian saya. Baru bisanya segitu. Tahap pendewasaan yang seharusnya sudah saya miliki sejak dulu, namun baru bisa saya miliki saat menyelesaikan pencapaian yang telah saya mulai tersebut. Euphoria yang cukup unik. Dimana setiap orang mempunyai keinginan dan pencapaian masing-masing. Target saya masih ada juga yang belum saya selesaikan. Tapi memang butuh kesungguhan yang luar biasa untuk mencapainya. Butuh bimbingan untuk membuahkan hasil yang baik. Perlu dicoba untuk menyempatkan waktu disela waktu rutin saya bekerja. Lha wong update blog saja, tidak tentu kok. Mau menargetkan hal-hal lain. Konsisten dulu pada hal yang simple dulu, baru berbicara tentang hal-hal yang lebih besar lainnya.
Dari sekian tahun yang saya lalui dengan mengenaskan, mungkin tahun inilah yang menjadi tolok ukur, bahwa saya sanggup menyelesaikan suatu hal yang dulu pernah saya mulai. Rasanya ketika mampu mencapainya, dunia seakan turut bernyanyi, serasa melihat pelangi di ujung langit dikala senja mulai menapak. Sedikit hiperbola, namun itulah rasa yang saya alami ketika mendapat hal yang sudah menjadi idaman saya sejak 10 tahun yang lalu. Padahal mungkin pencapaian saya ini, bagi orang lain merupakan hal yang biasa-biasa saja. Cukup menggelikan ketika mengingatnya. Pada saat sekarang, mungkin semua hal itu mengakibatkan hal itu selalu menjadi perhatian tersendiri. Secara saya sudah mempersiapkan semuanya ketika hal utama itu datang, terasa komplet. Sungguh aneh dan terasa norak. Tapi biarlah, tidak setiap tahun saya mampu mempersembahkan hal terbaik dalam hidup saya. Saya merasa tidak membutuhkan hal-hal lain. Ketika sekarang makin mutakhir perkembangan teknologi, saya juga tidak tertarik untuk menggantikan hal tersebut. Kadang memang segalanya harus dimulai dengan kecukupan. Saya hanya mengikuti perkembangannya saja. Namun tidak mengaplikasikan pada alat tersebut. Cukup mengetahuinya saja, sudah membuat hati ini menjadi senang. Tolok ukur kepuasan memang sungguh relative. Ketika saya berbicara tentang masalah fungsi. Sudahlah, hanya itu saja yang saya rasakan. Rasa yang dulu tidak pernah terbayangkan akan memilikinya. Mungkin inilah bentuk dari pembelajaran ikhlas. Walaupun disisi lain, kadang belum bisa saya terapkan. Tapi mungkin inilah pencapaian saya. Baru bisanya segitu. Tahap pendewasaan yang seharusnya sudah saya miliki sejak dulu, namun baru bisa saya miliki saat menyelesaikan pencapaian yang telah saya mulai tersebut. Euphoria yang cukup unik. Dimana setiap orang mempunyai keinginan dan pencapaian masing-masing. Target saya masih ada juga yang belum saya selesaikan. Tapi memang butuh kesungguhan yang luar biasa untuk mencapainya. Butuh bimbingan untuk membuahkan hasil yang baik. Perlu dicoba untuk menyempatkan waktu disela waktu rutin saya bekerja. Lha wong update blog saja, tidak tentu kok. Mau menargetkan hal-hal lain. Konsisten dulu pada hal yang simple dulu, baru berbicara tentang hal-hal yang lebih besar lainnya.
Rabu, 20 Oktober 2010
Living Single Part 2
Resiko kembali ke kota kecil dimana semua orang tahu tentang kegiatan dari masing-masing individu membuat orang semakin dengan kejam memasuki ranah privat. Padahal yang terjadi tidaklah seperti yang diduga oleh orang-orang tua yang sok dengan aturan-aturan aneh itu. Cukup merepotkan juga, ketika banyak pendapat tersebut didengarkan. Karena pada kenyataannya, pendapat mereka justru bertolak belakang dengan hal-hal yang dituduhkan. Mungkin kejadiannya hampir mirip dengan gosip yang melanda para artis sekarang ini, ketika infotainment dengan kejam juga memberikan pendapat nya yang mungkin memberitakan hal yang tidak benar. Sungguh mengerikan. Semoga saja ketika sekarang saya menghadapi hal-hal begitu, saya bisa cukup dewasa untuk menyikapinya. Karena inilah sesungguhnya hidup dalam kejamnya masyarakat. Seperti bagi penulis, toko buku adalah taman bermain yang sangat kejam. Sekarang, saya pun sedang menghadapi kejamnya masyarakat. Society yang selama hampir 5 tahun menjadi kajian kuliah saya, kini benar-benar saya hadapi kekejamannya. Ketika dulu, hanya berkutat pada bagaimana cara mensiasati tradisi yang cukup merepotkan. Sungguh, karena pada kenyataannya tidak seperti yang dituduhkan. Ya sudahlah, mungkin memang tidak perlu didengarkan. Kalaupun mendengar, pura-pura saja tidak mendengar. Hidup kita toh tidak bergantung dari omongoan orang. Urus hidup masing-masing saja sudah susah, gimana masih bisa mengurus hidup orang lain ya?
Sabtu, 09 Oktober 2010
VACATION
Ketika perasaan kosong itu mulai tidak jelas menggerogoti jiwa yang sedang lelah, yang dibutuhkan adalah istirahat. Masa rehat untuk meluruskan niat dalam menjalani kehidupan. Pekerjaan yang biasanya tidak menjadi hal yang tidak dirindukan, ketika selesai rehat akan menjadi hal yang menyenangkan. Hidup akan menjadi semakin bergairah dengan tantangan. Selesai pengalihan dari rutinitas yang membosankan. Rasanya menyenangkan bahwa segala hal yang biasanya menjadi bermakna kembali. Hal yang indah bertemu dengan serangkaian peristiwa hiruk pikuk yang tidak jelas kapan akan berakhir baik. Bagaimana mungkin sanggup untuk meninggalkan hal yang menyenangkan seperti itu? Tak akan sanggup untuk menggantikan hal yang indah itu. Melepaskannya mungkin menjadi pilihan terakhir. Liburan bisa dalam beberapa hal, yang jelas melakukan semua hobi yang tidak sempat dikerjakan adalah hal yang menyenangkan. Mendengarkan suara-suara positif yang menebarkan semangat dalam menjalani hidup. Memutuskan hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Senyum itu selesai rehat, muncul dalam ketulusan. Rasanya lega. Bersiap menghadapi hari yang semakin tidak jelas. Merindukan hal yang biasanya menjadi hal dibenci. Entahlah, darimana semangat itu muncul kembali setelah semua hal yang dilalui. Beban hidup tidak akan pernah usai. Selalu ada untuk membuat segalanya disyukuri pada kapasitasnya. Menentukan hal yang wajar. Semua kadang tidak akan menjadi hal baik, kecuali ditempatkan pada hal yang baik. Kita sendiri yang membuat keputusan mana yang menyenangkan. Kondisi yang buruk pun, dapat menjadi hal yang menyenangkan selama pikiran kita sehat. Semoga saja bisa tertahan waras.
Kamis, 30 September 2010
Motivation
Sebenarnya saya sudah lupa dengan teman saya ini. Hanya sekilas ingatan yang membuat saya agak mampu memdeskripsikan bagaimana bentuk wajah nya dulu, ketika kita masih bersama duduk di bangku SMP. Kebetulan teman saya ini, sekarang berprofesi sebagai penyanyi yang sedang merambah dunia hiburan. Mungkin sebagai anak band yang sekarang identik dengan kehidupan yang glamor, mungkin gaya hidupnya pun juga ikut berubah. Setelah sekian puluh tahun berpisah, tiba-tiba saya dan dirinya dipertemukan lagi dalam jejaring social yang cukup terkenal saat ini, Facebook. Berawal dari hobi saya yang senang mencermati status orang lain yang ada dalam pertemanan saya, saya menyadari ada hal yang tidak beres antara, dirinya, dan kedua teman saya yang lain. Kebetulan, saya pun mengenali rekan-rekan saya yang lain tersebut. Gila, dunia memang begitu sempitnya. Hubungan yang benar-benar tidak banyak berubah ketika pada masa itu. Dari jaman SMP yang berkisar dari tahun 90an hingga di abad 21 ini, tidak banyak merubah cerita hidup mereka. Padahal jika dirunut, terlalu banyak hal yang dilewatkan demi teman artis saya itu. Sungguh, hal yang bagi saya merupakan hal yang sia-sia. Banyak impian lain yang bisa diraih untuk lebih baik diusahakan, daripada hanya memperebutkan hal yang remeh. Hanya urusan cowok.
Masih banyak hal yang bisa dilakukan buat Negara ini. Tapi mungkin idealisme yang berbeda dengan sikap sok peduli saya tersebut. Kebetulan lagi, teman artis saya tersebut, menjadi pengisi soundtrack sebuah film buatan sutradara kondang. Beberapa waktu ini, saya kebetulan menonton film tersebut. Video klip yang teman artis saya ini pun muncul pada film tersebut. Awal saya menonton film tersebut, bukan karena cerita dari film melainkan ingin melihat performa dari teman artis saya itu, yang membuat dua orang gadis antri memperebutkan cinta dari sang arjuna. Saya memang tidak berhak sama sekali untuk ikut campur dalam urusan pribadi mereka. Toh mereka juga tidak memerlukan pendapat saya untuk melanjutkan keputusan-keputusan hidup mereka. Bahkan mereka tidak akan perduli, bahwa saya cukup perhatian dengan kisah cinta mereka yang unik. Kadang ketika saya iseng mencermati status di FB, saya cenderung bercerita pada sahabat-sahabat saya yang lain, tentang betapa hidup tidak akan berkembang ketika kita tidak melangkahkan kaki keluar pada daerah kenyaman kita sendiri. Berani menghadapi hal-hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Itulah sesungguhnya hidup.
Mungkin teman saya yang satu ini, menyadari bahwa tindakannya untuk menunggu sang arjuna yang menurut saya juga masih bermain-main dengan hidupnya sendiri, merupakan perjuangan yang layak mendapatkan penghargaan. Sedangkan rekan wanita yang terkalahkan, sampai dengan saat ini masih belum memberikan tanggapan apa-apa. Cukup tragis juga hidup teman SMP saya ini. Semoga saja, dia tabah dalam menjalani hidupnya. Kehilangan segalanya, cinta dan pria yang dicintainya pun berpaling pada orang lain. Tidak banyak orang bisa dengan cerdas bisa menyikapi hal-hal tersebut. Bahkan ketika saya sendiri yang mengalaminya, belum tentu juga sekuat teman saya ini. Cukup salut teman. Lanjutkan hidup dengan lebih baik lagi. Kamu layak dapat pria yang lebih baik dari teman kita itu, sungguh, tentunya banyak hikmah yang bakal diperoleh dari peristiwa ini. Balasan yang akan diterima bagi orang yang bertawakal tentunya akan lebih indah. Semangat ya, pren.
Masih banyak hal yang bisa dilakukan buat Negara ini. Tapi mungkin idealisme yang berbeda dengan sikap sok peduli saya tersebut. Kebetulan lagi, teman artis saya tersebut, menjadi pengisi soundtrack sebuah film buatan sutradara kondang. Beberapa waktu ini, saya kebetulan menonton film tersebut. Video klip yang teman artis saya ini pun muncul pada film tersebut. Awal saya menonton film tersebut, bukan karena cerita dari film melainkan ingin melihat performa dari teman artis saya itu, yang membuat dua orang gadis antri memperebutkan cinta dari sang arjuna. Saya memang tidak berhak sama sekali untuk ikut campur dalam urusan pribadi mereka. Toh mereka juga tidak memerlukan pendapat saya untuk melanjutkan keputusan-keputusan hidup mereka. Bahkan mereka tidak akan perduli, bahwa saya cukup perhatian dengan kisah cinta mereka yang unik. Kadang ketika saya iseng mencermati status di FB, saya cenderung bercerita pada sahabat-sahabat saya yang lain, tentang betapa hidup tidak akan berkembang ketika kita tidak melangkahkan kaki keluar pada daerah kenyaman kita sendiri. Berani menghadapi hal-hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Itulah sesungguhnya hidup.
Mungkin teman saya yang satu ini, menyadari bahwa tindakannya untuk menunggu sang arjuna yang menurut saya juga masih bermain-main dengan hidupnya sendiri, merupakan perjuangan yang layak mendapatkan penghargaan. Sedangkan rekan wanita yang terkalahkan, sampai dengan saat ini masih belum memberikan tanggapan apa-apa. Cukup tragis juga hidup teman SMP saya ini. Semoga saja, dia tabah dalam menjalani hidupnya. Kehilangan segalanya, cinta dan pria yang dicintainya pun berpaling pada orang lain. Tidak banyak orang bisa dengan cerdas bisa menyikapi hal-hal tersebut. Bahkan ketika saya sendiri yang mengalaminya, belum tentu juga sekuat teman saya ini. Cukup salut teman. Lanjutkan hidup dengan lebih baik lagi. Kamu layak dapat pria yang lebih baik dari teman kita itu, sungguh, tentunya banyak hikmah yang bakal diperoleh dari peristiwa ini. Balasan yang akan diterima bagi orang yang bertawakal tentunya akan lebih indah. Semangat ya, pren.
Langganan:
Postingan (Atom)