Kamis, 12 Mei 2011

Flying with the Wings



Terakhir saya melihat burung-burung yang berkelompok terbang di langit senja. Mungkin sekitar 100 ekor lebih yang saya liat di kota kelahiran saya, sekitar akhir tahun 80-an, di Jawa. Saya mengingatnya dengan jelas, ketika saya masih umur 8 tahun tersebut ditunjukkan oleh ayah saya. Romantisme masa lalu yang setelah berlalunya waktu, kemudian saya melupakannya. Polusi yang semakin meningkat, ataupun perburuan burung-burung, mungkin membuat burung-burung itu tak lagi bisa terbang secara berkelompok pada sore hari. Selain itu, semakin saya sibuk dengan kegiatan sekolah, hingga bekerja sekarang ini. Saya sepertinya lupa dengan keindahan sore hari. Apalagi sekarang, rutinitas yang membosankan. Pulang bekerja saja, justru saat hari selesai gelap. Melihat matahari pagi dan petang saja, sudah lupa bagaimana bentuknya. Jiwa saya kembali terkenang pada peristiwa masa kecil indah itu, *thank’s to God. Give me fabulous childhood. Hingga suatu saat, saya melihat burung-burung itu kembali, ditempat saya bekerja sekarang. Nun jauh di ujung timur Indonesia. Jauh dari tempat kelahiran saya di Jawa. Ketika manusia, hutan dan laut masih saling bersahabat. Saya kembali menemukan burung yang terbang berkelompok tersebut. Betapa hal yang cukup mengharukan bagi saya. Mungkin bagi masyarakat disini, hal tersebut merupakan hal yang biasa saja. Bahkan kecenderungannya tidak begitu peduli. Karena memang hal tersebut bukan yang menarik untuk diliat. Sungguh mengesankan..

*courtesy by Yanthi Hotriana, burung di pantai kumbe, Merauke, Papua

The other side of story

“Sahabat mungkin akan pergi, tetapi persahabatan tidak akan pernah hilang”
Begitulah dulu saya pernah mendengar sesuatu kalimat yang disampaikan secara tidak sengaja oleh teman saya. Ketika itu akhir di masa kuliah, sekitar semester setelah menjelang skripsi usai. Saat berkumpul di perpustakaan pusat untuk menyerahkan bendelan skripsi sebagai syarat pengurusan gelar kesarjanaan di gedung rektorat. Berkumpul hanya dengan sahabat dekat yang sebentar akan berpisah, kembali ke tempat atau kota asal masing-masing. Mencoba merajut masa depan. Bagi yang memiliki IP lumayan tinggi, tentunya ada sedikit kebanggaan, mampu mencari pekerjaan atau bahkan mampu menciptakan pekerjaan. Bagi yang selama ini sudah bekerja, tinggal melanjutkan sedikit langkah untuk mendapatkan kehidupan yang semestinya. Kami lulus sekitar periode tahun 2003-2004. Sehingga detik ini, hanya tersisa segelintir orang yang bisa berkomunikasi. Baik melalui jejaring social, sms ataupun media lainnya. Sungguh mengharukan ketika sekarang saling bercerita tentang kondisi masing-masing. Keadaan yang sudah berkeluarga. Saling bercerita tentang suami, anak, ataupun keadaan diri sendiri yang penat dengan pekerjaan ataupun hal yang lain. Bercerita tentang mantan pacar dulu yang sekarangpun mungkin sudah berkeluarga dengan orang lain. Kadang ketika di facebook muncul tagging foto-foto jadul, sangat terasa kerinduan yang menyeruak muncul, “apakabar dia sekarang?” “bagaimana kondisinya sekarang?” Mendoakan hal-hal yang baik, menjadi obat yang menyenangkan untuk sekedar mengurangi rasa rindu tersebut. Teman-teman yang dahulu menjadi rekan seperjuangan, kini sibuk memperjuangkan keadaan masing-masing. Apalagi dulu ketika saya belum menikah, dan berteman dengan teman-teman yang telah menikah. Kadang merasa aneh, belum menemukan pasangan yang tepat dan mereka selalu bertanya, “kapan kamu menikah?”. Ironi yang tidak akan pernah selesai ketika sekarangpun, ketika selesai menikah, saya kembali ditanya, “kapan punya anak?” pertanyaan yang tidak akan pernah bisa selesai terjawab. Tapi sungguh, kebersamaan itu tidak akan pernah bisa digantikan. Rasa indah yang selalu akan ada dalam setiap perjalanan hidup masing-masing dari kita yang dulu pernah bersama. Ketika sekarang, kita sudah semakin tua dan sibuk dengan urusan pribadi, akan selalu ada hal yang membuat saya selalu merindukan setiap detik kebersamaan. Perubahan yang terjadi, memang berlaku natural, seiring dengan bergantinya waktu. Teman sejati tidak akan pernah bisa melupakan hal yang indah. Bila sekarangpun telah berubah, maka sebenarnya hanya pergantian masa disaat cerita lain sedang berlangsung. Maka akan ada cerita lain disisi sebaliknya. Sahabat yang tidak sengaja mengingat ulang tahun sahabatnya, mungkin hanya hal sepele. Namun bagi sahabatnya tersebut merupakan hal yang sangat penting. Merindu teman-teman lama tidak akan pernah usang untuk diceritakan. Kenangan indah yang akan selalu terpatri dalam relung hati. Saat sekarang, kesibukan memang merentangkan jarak bagiku dan bagimu, namun bertemu dalam mimpi kadang cukup membuat cerita itu akan tetap selalu ada. Andaipun dirimu yang nun jauh disana, tetaplah dekat dalam hatiku. Bila dirimu telah tenang disana, tetapkan hidup dalam imaji kenangan kebersamaan yang tidak akan pudar.

SOULMATE



Dulu saya pernah benar-benar jatuh cinta pada seorang pria sewaktu pada masa kuliah. Jatuh cinta yang membuat saya berpikir bahwa seperti nya dialah yang mampu menjadi teman sejati saya. Hingga beberapa lama, mungkin tidak mudah mengganti cinta saya pada pria tersebut. Namun karena banyak sebab, saya dan dia tidak bisa menikah. Padahal saya dan dia sama-sama saling mengerti bahwa diantara saya dan dia, memang saling mencintai. Hal yang paling unik, bahwa hubungan batin ini, sangat lah dekat sekali. Banyak sekali kebetulan yang membuat saya yakin, bahwa pria inilah teman sejati saya. Banyak hal yang dipikirkan, bisa terjadi pada saya dan dia. Pertama kali saya merasakan bahwa ternyata diantara manusia memang ada energy untuk saling tahu. Dulu saya hanya mencemooh ketika ibu saya berfirasat. Mungkin karena ibu saya tidak bisa menjelaskan tentang hubungan absurd yang terjadi diantara anggota keluarga saya. Namun ketika saya mengalaminya, saya kemudian berpikir, bahwa energy manusia apabila berkonsentrasi penuh pada sesuatu, akan menghasilkan suatu kepekaan tersendiri. Mungkin inilah yang menjadi modal pada para “Mind Games” saat mereka dengan mudah menebak angka atau apapun. Paranormal yang sanggup menjelaskan peristiwa kelak. Hal tersebut bukan perkara mistis, melainkan hanya melatih kepekaan yang mungkin sehari-hari bisa kita latih diantara anggota keluarga atau siapapun yang diinginkan. Biasanya yang paling manjur antara hubungan ibu dan anak atau istri dan suami. Ketika saya dan pria ini memutuskan untuk berpisah, saya berpikir, akankah suatu ketika saya bisa menemukan orang yang bisa berkoneksi batin secara luar biasa lagi. Pada kenyataannya, saya bisa menemukannya. Selama beberapa waktu pula, saya menempatkan pikiran saya untuk mengkonfigurasi ulang bahwa saya harus berdamai dengan masa lalu saya. Pria pertama, tidak mungkin menjadi partner keabsurdan saya. Kemudian saya kembali berlatih mengalihkan perasaan yang biasanya dulu saya terapkan pada pria lalu kepada pada pria sekarang. Setiap orang tentunya mempunyai kepribadian yang unik. Tidak pernah sama ataupun dipersamakan. Saya sendiripun tidak pernah mau untuk disamakan dengan perempuan manapun. Dengan pria kedua ini pun, saya kembali menemukan sesuatu yang luar biasa. Bahkan energinya lebih murni, karena secara pribadi, pria ini cukup polos. Bukan orang yang gemar berkata-kata sehingga jiwanya hanya berdasar pada kearifan lokal saja. Hanya mendasarkan pada pengalaman yang dijalaninya. Mungkin kekurangannya adalah tidak banyak belajar dari hal-hal yang ada diluar pemikirannya. Namun hal yang luar biasa, adalah kemampuan untuk cepat beradapatasi dengan pemikiran saya yang cenderung ruwet dan tidak berstruktur. Saya benar-benar merasa nyaman dengannya. Hampir mirip dengan pria dahulu, bahkan pria kedua ini jauh lebih baik dengan tidak banyaknya hambatan dalam mewujudkan perasaan dan energy nya. Perjuangan yang panjang untuk menemukan pria yang bisa menyamankan saya secara cerdas. Hal yang paling indah ketika pria kedua ini mempunyai selera humor yang unik, lebih baik dari pria terdahulu. Pria kedua ini, sanggup membuat saya tertawa tanpa harus berpikir untuk berpura-pura, mampu menjadi diri saya sendiri dan bisa berekspresi sebebas mungkin. Hal penting lainnya, ketika dia mampun berdamai dengan masa lalu saya. Cukuplah itu menjadi alasan dalam menjalani hari-hari mendatang yang tidak bisa diprediksi kemungkinannya. Semoga memang saya telah benar menemukan seorang teman sejati kembali. Yang bisa memimpin, membuat saya kembali berpikir dan mampu merangsang kreativitas hidup.

Rabu, 27 April 2011

Boss, what should we had to learn about?

The leader is one who knows the way, goes the way, and show the way. – John C. Maxwell
Saya membaca ungkapan itu sempat tertegun, ketika menyadari bahwa ketika saya bekerja sekarang, tidak banyak atasan saya yang mengerti arti sesungguhnya tentang jabatan yang sekarang dijalani. Mungkin memang seperti bonafid ketika mereka menyandang jabatan tersebut. Padahal ketika saya menjadi bawahan,kadang tidak pernah menerima suatu bentuk leadership diantara atasan saya. Malah yang ada bekerja bersama-sama. Lha apa gunanya jabatan pemimpin jika hanya bekerja bersama-sama dengan bawahannya. Padahal ketika sekarang bawahan ini seperti kehilangan arah (perusahaan mulai kolaps dengan invansi pihak asing) mereka malah beramai-ramai meninggalkan pekerjaan, tidak ada yang merasa cocok dengan metode yang baru dari management atas yang menerapkan system tersebut. Kerja keras yang selama ini dilakukan, dibiarkan begitu saja. Padahal mereka termasuk para perintis yang keilmuan tentang masing-masing bidang departemen, cukup banyak faedahnya. Namun siapa juga yang tahu isi dalam hati dan pikiran orang, mungkin saja mereka benar-benar telah jenuh, tidak bisa lagi mengembangkan karir, kebutuhan hal yang seharusnya dipenuhi tidak kunjung teralisasi. Atau jauh dari keluarga, minim hiburan, banyak hal lah. Mungkin jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lebih dulu bekerja di perusahaan yang bonafid dalam arti yang sesungguhnya, tentunya secara gaji, mungkin ditempat saya bekerja, gaji benar-benar menjadi modal utama karyawan bekerja. Untuk ukuran pegawai administrasi seperti saya, gaji tersebut, cukup menggiurkan bagi kandidat yang berlomba untuk mengisi kekosongan posisi yang telah lama ditinggalkan. Hanya orang-orang yang terpilih saja, yang mampu mengemban sesuatu yang tidak jelas. Bahkan termasuk saya, yang dari awal tidak suka dengan system management baru ini, lama-lama akan merasa jenuh sekali. Namun, tenggat waktu yang dilakukan menunjukkan bahwa semua orang dinilai kapabilitasnya sebagai karyawan. Saya sendiri juga sedang mencoba memompa semangat saya dalam bekerja. Rasanya seperti mengalami kejenuhan yang luar biasa. Siapa lagi yang bisa membahagiakan diri kecuali diri sendiri. Saya sedang mengumpulkan lagi, semangat yang dulu pernah ada ketika awal saya bekerja. Bahkan departemen saya paling sering berganti kepemimpinan. Justru membuat saya bisa mengerti karakteristik seseorang. Bahkan termasuk pimpinan yang selama ini saya takuti karena kenakalannya. Sori, bos. Tidak bermaksud loh. Jadi tolonglah para pemimpin kami, sedikit melihat bahwa butuh management baru untuk berkolaborasi dengan bos-bos baru juga. Saya juga sedang berusaha. Kadang usaha itu diperlukan agar mampu beradaptasi dengan hal-hal yang selamanya tidak bisa dicerna dengan akal. Cukup mengerikan rasa putus asa saya ini. Tapi setidaknya saya juga harus berpikir ulang, untuk meninggalkan pekerjaan ini. Lha artinya saya harus mudik ke Jawa, dengan segenap penyesalan, kenapa saya harus ke tempat yang terpencil ini. Please help me, God. Show me the way..

Sabtu, 05 Februari 2011

Newlywed

Ketika selesai akad nikah beberapa waktu lalu, yang saya rasakan, hal yang biasa sekali. Ketika saya berharap ada kejutan perasaan yang seperti dirasakan para pengantin laennya, saya tidak mendapatkannya. Semuanya berjalan seperti masa ketika saya pacaran dulu, biasa sekali. Entahlah, ada yang tidak beres sepertinya. Bahkan ketika ada seorang sodara yang mengatakan, "Ini pengantinnya ketawa terus..seneng ya udah nikah?" hi..hi.. padahal sesungguhnya bukan itu yang ada dalam benak saya kala itu. Saya sumringah karena berusaha menutupi kekurangan suami saya yang memang susah sekali untuk tersenyum. Padahal itu baru pertama kalinya saya dan mantan pacar saya menjadi beralih menjadi suami dan istri. Babak baru yang menandai kehidupan seumur hidup saya selanjutnya berawal dari hari itu. Sumpah yang akan selalu menjadi acuan saya mendampingi orang yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari orang laen. Sial, menjadi istri yang punya karakter, emang susah. Masalahnya kadang saya belum bisa menaklukkan emosi. Kenapa saya berani menikah dengannya? hi..hi.. absurd sekali jawabannya. Cuma kadang, rasanya sudah mulai aneh ketika jauh dari dirinya. Mungkin inilah, yang disebut pacaran setelah menikah. Sekarang, ketika bangun pagi, saya mengafirmasi diri saya sendiri, untuk menjadikan teman hidup saya, menjadi parter rumah tangga yang baik. Rasanya menyenangkan, ketika saya dan suami melakukan kegiatan rumah tangga bersama-sama. Ketika sekarang misalnya, saya sedang sendirian ditinggal suami bertugas, yaa.. rasanya seperti masa single dulu. Anggap saja, me time. Rasanya yang masih tetep merasa single walo sudah menikah. Yaaa, merasa hal sama. have fun ajah..

Senin, 20 Desember 2010

Stuck at The Moment part 2

Ini saat demotivasi yang paling parah. Setelah 2 tahun, saya bekerja pd perusahaan ini, saya merasa benar-benar dalam kondisi drop yang separah-parahnya. Biasanya, saya bisa mengalihkan perhatian sehingga bisa mulai mengawali semangat baru lagi. Namun, tidak tahu entahalah, ada apa dengan saya kali ini. Benar-benar lemah sekali. Ketika masuk kantor, rasanya sudah mual-mual. Menulis pun, saya lakukan ditengah jam kerja. Suatu hal yang parah sekali dalam hidup saya. Atau kah sudah saatnya saya mengawali sesuatu yang baru. Sepertinya menjadi penggangguran bukan menjadi pilihan sekarang. Atau mencoba pekerjaan baru lagi? atau saya malas untuk keluar dari zona kenyamanan saya. Rasanya benar-benar membingungkan. Memompa semangat untuk diri sendiri saja, kesulitan. Belum lagi, kondisi perusahaan sedang tidak stabil. Banyak rekan-rekan yang resign, karena management baru mungkin dirasa tidak sesuai dengan mereka. Saya merasa bisa bertahan, karena hanya sebagai admin, frekuensi konflik pun jarang terjadi. Sehingga saya, masih saja merasa bisa bekerja dengan baik. Lain hal nya dengan rekan-rekan yang mengalami efek secara langsung. Karena management dengan ketat mengawasi kinerja mereka. Pe-er saya sekarang, hanya membangun motivasi untuk diri saya sendiri. Mungkin butuh penyegaran. Cuti sudah dijadwalkan. Mungkin cuti kali ini, cuti paling stres yang saya alami. Merasa bahwa saya tidak berkembang. Hanya terkungkung dalam suasana aneh. Saya sedang berusaha dewasa, tidak hanya menjalani hidup saja. Harus mempunyai rencana. Namun saat ini, saya sedang tidak bisa berpikir. Huuff.. sial...

Sabtu, 18 Desember 2010

THE HARD TARGET

Sebenarnya ketika berbicara pencapaian, kadang saya tidak ingin memasang target. Hal ini menyakitkan ketika pada akhirnya nanti, kita tidak mampu mencapai target yang sebelum ditetapkan. Memang benar, kadang orang mengatakan gantungkan cita-cita mu setinggi langit. Namun jika kenyataannya, kita tidak mampu meraihnya, harus dikaji kembali tentang hal tersebut. Dimana letak kekurangan kita yang menyebabkan hal tersebut tidak mampu diselesaikan.
Dari sekian tahun yang saya lalui dengan mengenaskan, mungkin tahun inilah yang menjadi tolok ukur, bahwa saya sanggup menyelesaikan suatu hal yang dulu pernah saya mulai. Rasanya ketika mampu mencapainya, dunia seakan turut bernyanyi, serasa melihat pelangi di ujung langit dikala senja mulai menapak. Sedikit hiperbola, namun itulah rasa yang saya alami ketika mendapat hal yang sudah menjadi idaman saya sejak 10 tahun yang lalu. Padahal mungkin pencapaian saya ini, bagi orang lain merupakan hal yang biasa-biasa saja. Cukup menggelikan ketika mengingatnya. Pada saat sekarang, mungkin semua hal itu mengakibatkan hal itu selalu menjadi perhatian tersendiri. Secara saya sudah mempersiapkan semuanya ketika hal utama itu datang, terasa komplet. Sungguh aneh dan terasa norak. Tapi biarlah, tidak setiap tahun saya mampu mempersembahkan hal terbaik dalam hidup saya. Saya merasa tidak membutuhkan hal-hal lain. Ketika sekarang makin mutakhir perkembangan teknologi, saya juga tidak tertarik untuk menggantikan hal tersebut. Kadang memang segalanya harus dimulai dengan kecukupan. Saya hanya mengikuti perkembangannya saja. Namun tidak mengaplikasikan pada alat tersebut. Cukup mengetahuinya saja, sudah membuat hati ini menjadi senang. Tolok ukur kepuasan memang sungguh relative. Ketika saya berbicara tentang masalah fungsi. Sudahlah, hanya itu saja yang saya rasakan. Rasa yang dulu tidak pernah terbayangkan akan memilikinya. Mungkin inilah bentuk dari pembelajaran ikhlas. Walaupun disisi lain, kadang belum bisa saya terapkan. Tapi mungkin inilah pencapaian saya. Baru bisanya segitu. Tahap pendewasaan yang seharusnya sudah saya miliki sejak dulu, namun baru bisa saya miliki saat menyelesaikan pencapaian yang telah saya mulai tersebut. Euphoria yang cukup unik. Dimana setiap orang mempunyai keinginan dan pencapaian masing-masing. Target saya masih ada juga yang belum saya selesaikan. Tapi memang butuh kesungguhan yang luar biasa untuk mencapainya. Butuh bimbingan untuk membuahkan hasil yang baik. Perlu dicoba untuk menyempatkan waktu disela waktu rutin saya bekerja. Lha wong update blog saja, tidak tentu kok. Mau menargetkan hal-hal lain. Konsisten dulu pada hal yang simple dulu, baru berbicara tentang hal-hal yang lebih besar lainnya.